Minggu, 15 Januari 2023

KISAH PEPERANGAN DI 'AQROBA

Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahihnya (1/15) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah ibnul Mubarok, sebuah perkataan yang layak ditulis dengan tinta emas, yaitu beliau berkata :

 

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

 

Sanad adalah termasuk agama, kalau tidak ada sanad, maka setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya.

 

Terkait dengan sejarah Islam, kita tidak akan peduli apa yang dikatakan oleh ahli sejarah, sekalipun mereka bersepakat untuk menyebutkan sebuah cerita, jika tidak ada sanad yang shahih yang menunjukkan kebenaran cerita tersebut, maka itu layak dilemparkan ke tembok. Kebanyakan ahli sejarah hanya mengumpulkan cerita, dan jarang diantara mereka yang meneliti kebenaran akan ceritanya, mungkin dengan cukup menyebutkan sanadnya, mereka sudah merasa bahwa pembacanya akan menyeleksi kebenaran cerita tersebut, namun sayangnya banyak pembaca yang tidak melakukan hal tersebut, sehingga mereka pun turut dalam menyebarkannya, tanpa menyebutkan benar tidaknya cerita tersebut.

 

Musailimah Al-Kadzdzaab ini dahulu pernah datang kepada Nabi SAW bersama rombongan kaum Bani Hanifah, yang menyatakan masuk Islam. Tetapi Musailimah minta supaya ditetapkan sebagai Nabi, menjadi Nabi bersama Nabi SAW, maka permintaan tersebut ditolak oleh Rasulullah SAW.

 

Setelah mereka kembali ke Yamamah (negeri mereka), Musailimah murtad dari keislamannya, dan dia mengaku menjadi Nabi disamping Nabi Muhammad SAW, dan dia mulai membuat propaganda palsu kepada kaumnya.

 

Musailimah berkata, “Sesungguhnya aku bersekutu dalam soal kenabian ini dengan Muhammad”.

 

Dan dia juga pernah berkirim surat kepada Nabi SAW, surat itu berbunyi sebagai berikut :

 

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُوْلِ اللهِ اِلىَ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ. اَمَّا بَعْدُ: فَاِنّى قَدْ اَشْرَكْتُ فِى اْلاَمْرِ مَعَكَ. وَ اِنَّ لَنَا نِصْفَ اْلاَمْرِ. وَ لَيْسَ قُرَيْشٌ قَوْمًا يَعْدِلُوْنَ. الحلبية 3: 315

 

Dari Musailimah utusan Allah, kepada Muhammad utusan Allah.

 

Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku telah bersekutu dalam urusan (kenabian) denganmu. Dan bahwasanya bagi kami separuh urusan, akan tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang tidak adil. [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 315

 

 

Setelah surat itu diterima oleh Nabi SAW, maka beliau memberi balasan pada waktu itu juga dengan surat sebagai berikut :

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلىَ مُسَيْلِمَةَ اْلكَذَّابِ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى، اَمَّا بَعْدُ: فَاِنَّ اْلاَرْضَ ِللهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَ اْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ. الحلبية 3: 315

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailimah Pendusta. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Dan akibat (kesudahan yang baik) itu bagi orang-orang yang bertaqwa. [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 315]

 

Di dalam tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan sebagai berikut :

 

لَمَّا رَضِيَ الصّدّيْقُ عَنْ خَالِدِ بْنِ اْلوَلِيْدِ وَ عَذَرَهُ بِمَا اعْتَذَرَ بِهِ، بَعَثَهُ اِلىَ قِتَالِ بَنِي حَنِيْفَةَ بِالْيَمَامَةِ، وَ اَوْعَبَ مَعَهُ الْمُسْلِمُوْنَ، وَ عَلَى اْلاَنْصَارِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، فَسَارَ لاَ يَمُرُّ بِاَحَدٍ مِنَ الْمُرْتَدّيْنَ اِلاَّ نَكَّلَ بِهِمْ، وَ قَدْ  اِجْتَازَ بِخُيُوْلٍ لاَصْحَابِ سَجَاحَ فَشَرَّدَهُمْ وَ اَمَرَ بِاِخْرَاجِهِمْ مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ.

 

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memaafkan Khalid bin Walid dan menerima alasannya (berkenaan dengan terbunuhnya Malik bin Nuwairah), kemudian beliau mengutus Khalid bin Walid untuk memerangi Bani Hanifah di Yamamah, dengan mengerahkan pasukan kaum muslimin. Pimpinan kaum Anshar ketika itu adalah Tsabit bin Qais bin Syammas.

Khalid mulai berjalan menuju Bani Hanifah, tidaklah ia melewati kaum yang murtad melainkan pasti membuatnya jera. Ketika melewati pasukan berkuda Sajaah, Khalid menyerbu mereka hingga mereka lari kocar-kacir dan akhirnya Khalid berhasil mengusir mereka dari Jazirah ‘Arab.

 

وَ اَرْدَفَ الصّدّيْقُ خَالِدًا بِسَرِيَّةٍ لِتَكُنْ رِدَءًا لَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَ قَدْ كَانَ بَعَثَ قَبْلَهُ اِلىَ مُسَيْلِمَةَ عِكْرِمَةَ بْنَ اَبِي جَهْلٍ، وَ شُرَحْبِيْلَ بْنَ حَسَنَةَ، فَلَمْ يُقَاوِمَا بَنِي حَنِيْفَةَ، لاَنَّهُمْ فِي نَحْوِ اَرْبَعِيْنَ اَلْفًا مِنَ الْمُقَاتِلَةِ، فَعَجَّلَ عِكْرِمَةُ قَبْلَ مَجِئِ صَاحِبِهِ شُرَحْبِيْلَ، فَنَاجَزَهُمْ فَنُكِبَ، فَانْتَظَرَ خَالِدًا

 

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menyertakan bala bantuan di belakang Khalid untuk menjaganya dari belakang.

 

Sebelumnya, Abu Bakar telah mengutus ‘Ikrimah bin Abu Jahl dan Syurahbil bin Hasanah menuju Musailimah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani Hanifah disebabkan jumlah personil musuh  sangat banyak, yakni sekitar 40.000 personil. Kemudian ‘Ikrimah telah mendahului sebelum Syurahbil datang. Kemudian Syurahbil memerangi mereka, namun juga merasa tidak mampu mengalahkannya, lalu menunggu pasukan Khalid bin Walid.

 

فَلَمَّا سَمِعَ مُسَيْلِمَةُ بِقُدُوْمِ خَالِدٍ عَسْكَرَ بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ عَقْرَبَا فِي طَرَفِ الْيَمَامَةِ وَالرّيْفُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ، و نَدَبَ النَّاسَ وَحَثَّهُمْ، فَحَشَدَ لَهُ اَهْلُ الْيَمَامَةِ، وَجَعَلَ عَلَى مُجَنّبَتَيْ جَيْشِهِ الْمُحَكَّمَ بْنَ الطُّفَيْلِ، وَالرَّجَّالَ بْنَ عُنْفُوَةَ بْنِ نَهْشَلٍ، وَكَانَ الرَّجَّالُ هذَا صَدِيْقَهُ الَّذِيْ شَهِدَ لَهُ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ اَنَّهُ قَدْ اُشْرِكَ مَعَهُ مُسَيْلِمَةُ بْنُ حَبِيْبٍ فِي اْلاَمْرِ، وَ كَانَ هذَا الْمَلْعُوْنُ مِنْ اَكْبَرِ مَا اَضَلَّ اَهْلَ الْيَمَامَةِ، حَتَّى اَتْبَعُوْا مُسَيْلِمَةَ، لَعَنَهُمَا اللهُ، وَقَدْ كَانَ الرَّجَّالُ هذَا قَدْ وَفَدَ اِلىَ النَّبِيّ ص وَ قَرَأَ الْبَقَرَةَ، وَجَاءَ زَمَنُ الرّدَّةِ اِلىَ اَبِي بَكْرٍ فَبَعَثَهُ اِلىَ اَهْلِ الْيَمَامَةِ يَدْعُوْهُمْ اِلىَ اللهِ وَ يُثَبّتُهُمْ عَلَى اْلاِسْلاَمِ، فَارْتَدَّ مَعَ مُسَيْلِمَةَ وَ شَهِدَ لَهُ بِالنُّبُوَّةِ.

 

Setelah Musailimah mendengar kedatangan Khalid dan telah menempatkan pasukannya di suatu tempat yang bernama ‘Aqraba di ujung bumi Yamamah, sedangkan perkampungan tepat di arah punggung mereka, Musailimah lalu membangkitkan semangat fanatisme kesukuan pasukannya, sehingga bangkitlah fanatisme penduduk Yamamah memenuhi ajakannya.

 

Musailimah menempatkan pada kedua sayap pasukannya masing-masing Al-Muhakkam bin Thufail dan Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah bin Nahsyal. Sebelumnya Ar-Rajjal adalah shahabat Musailimah yang pernah bersaksi bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW menyatakan bahwa Musailimah bin Habib telah mendapatkan wahyu seperti Nabi. Akibat kesaksian palsunya itu orang terla’nat ini memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah, sehingga penduduk Yamamah mengikuti Musailimah, semoga Allah mela’nat keduanya. Bahkan Ar-Rajjal pernah datang menghadap Rasulullah SAW dan sempat membaca surat Al-Baqarah.

 

Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu Bakar mengutusnya kepada penduduk Yamamah untuk berda’wah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia pada Islam, namun akhirnya Rajjal ikut murtad bersama Musailimah dan bersaksi bahwa Musailimah adalah Nabi.

 

وَ قَرُبَ خَالِدٌ وَ قَدْ جَعَلَ عَلَى الْمُقَدّمَةِ شُرَحْبِيْلَ بْنَ حَسَنَةَ، وَ عَلَى الْمُجَنّبَتَيْنِ زَيْدًا وَ اَبَا حُذَيْفَةَ، وَ قَدْ مَرَّتِ الْمُقَدّمَةُ فِي اللَّيْلِ بِنَحْوٍ مِنْ اَرْبَعِيْنَ، وَ قِيْلَ سِتّيْنَ فَارِسًا، عَلَيْهِمْ مَجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ، وَكَانَ قَدْ ذَهَبَ لاَخْذِ ثَأْرٍ لَهُ فِي بَنِي تَمِيْمٍ وَ بَنِي عَامِرٍ وَ هُوَ رَاجِعٌ اِلىَ قَوْمِهِ فَاَخَذُوْهُمْ. فَلَمَّا جِيْءَ بِهِمْ اِلىَ خَالِدٍ عَنْ آخِرِهِمْ فَاعْتَذَرُوْا اِلَيْهِ فَلَمْ يُصَدّقْهُمْ، وَ اَمَرَ بِضَرْبِ اَعْنَاقِهِمْ كُلّهِمْ، سِوَى مَجَّاعَةَ فَاِنَّهُ اسْتَبْقَاهُ مُقَيّدًا عِنْدَهُ (لِعِلْمِهِ بِالْحَرْبِ وَ الْمَكِيْدَةِ) وَ كَانَ سَيّدًا فِي بَنِي حَنِيْفَةَ شَرِيْفًا مُطَاعًا

Pasukan Khalid telah dekat, formasi pasukannya, di depan dipimpin Syurahbil bin Hasanah, sementara di sayap kiri dan sayap kanan adalah Zaid bin Khaththab dan Abu Hudzaifah. Dan pasukan Islam yang terdepan telah mendahului bertemu musuh yang berjumlah sebanyak 40 orang penunggang kuda (ada yang mengatakan 60 orang) di malam hari di bawah pimpinan Majja’ah bin Murarah. Waktu itu ia berangkat untuk membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani ‘Amir, kemudian ketika kembali kepada kaumnya, ia dan teman-temannya ditangkap oleh pasukan kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Mereka seluruhnya minta pengampunan kepada Khalid, namun Khalid tidak percaya, bahkan memerintahkan agar seluruhnya dibunuh kecuali Majja’ah, ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di dekat Khalid, karena keahliannya dalam siasat perang, dan ia merupakan pemimpin yang dimuliakan dan dipatuhi oleh kaumnya Bani Hanifah.

 

وَ يُقَالُ: اِنَّ خَالِدًا لَمَّا عُرِضُوْا عَلَيْهِ قَالَ لَهُمْ: مَاذَا تَقُوْلُوْنَ يَا بَنِي حَنِيْفَةَ ؟ قَالُوْا: نَقُوْلُ مِنَّا نَبِيٌّ وَ مِنْكُمْ نَبِيٌّ، فَقَتَلَهُمْ اِلاَّ وَاحِدًا اِسْمُهُ سَارِيَةُ، فَقَالَ لَهُ: اَيُّهَا الرَّجُلُ اِنْ كُنْتَ تُرِيْدُ عَدًا بِعُدُوْلِ هذَا خَيْرًا اَوْ شَرًّا فَاسْتَبْقِ هذَا الرَّجَلَ (يَعْنِي مَجَّاعَةَ بْنَ مُرَارَةَ) فاسْتَبْقَاهُ خَالِدٌ مُقَيّدًا، وَ جَعَلَهُ فِي الْخَيْمَةِ مَعَ امْرَأَتِهِ، وَ قَالَ: اِسْتَوْصِيْ بِهِ خَيْرًا

 

Ada yang mengatakan bahwa ketika mereka dihadapkan kepada Khalid, Khalid bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian wahai Bani Hanifah ?”. Mereka serentak menjawab, “Dari kami seorang Nabi dan dari kalian seorang Nabi pula”.

 

Khalid lalu membunuh mereka semuanya kecuali seorang yang bernama Sariyah. Sariyah lalu berkata kepada Khalid, “Wahai orang laki-laki, jika anda ingin berperang, bagaimanapun kondisi yang anda temui besok, baik ataupun buruk, namun biarkanlah satu orang ini hidup”. (Yaitu Majja’ah bin Murarah). Oleh karena itulah Khalid membiarkannya hidup dalam keadaan terikat. Khalid menempatkannya di dalam tenda dengan istrinya Khalid. Dan Khalid berpesan kepada istrinya, “Berbuat baiklah kepadanya”.

 

فَلَمَّا تَوَاجَهَ الْجَيْشَانِ قَالَ مُسَيْلِمَةُ لِقَوْمِهِ: اَلْيَوْمَ يَوْمُ الْغَيْرَةِ، اَلْيَوْمَ اِنْ هُزِمْتُمْ تُسْتَنْكَحُ النّسَاءُ سَبَيَاتٍ، وَ يُنْكَحْنَ غَيْرَ حَظَيَاتٍ، فَقَاتِلُوْا عَلَى اَحْسَابِكُمْ وَ امْنَعُوْا نِسَاءَكُمْ،

 

Ketika kedua pasukan bertemu, Musailimah berseru kepada kaumnya, Hari ini adalah hari semangat kecemburuan dan penentuan. Hari ini jika kalian kalah, maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian”.

 

وَ تَقَدَّمَ الْمُسْلِمُوْنَ حَتَّى نَزَلَ بِهِمْ خَالِدٌ عَلَى كَثِيْبٍ يُشْرِفُ عَلَى الْيَمَامَةِ، فَضَرَبَ بِهِ عَسْكَرَهُ، وَ رَايَةُ الْمُهَاجِرِيْنَ مَعَ سَالِمٍ مَوْلىَ اَبِي حُذَيْفَةَ، وَ رَايَةُ اْلاَنْصَارِ مَعَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، وَ الْعَرَبُ عَلَى رَايَاتِهَا، وَ مَجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ مُقَيّدٌ فِي الْخَيْمَةِ مَعَ اُمّ تَمِيْمٍ اِمْرَأَةِ خَالِدٍ،

 

Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan Khalid bersama pasukannya membuat pertahanan di tempat yang tinggi di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abu Hudzaifah dan panji Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Orang-orang ‘Arab yang lain juga membawa panji mereka masing-masing, sementara Majja’ah terikat di dalam tenda, di dalam tenda ia bersama Ummu Tamim (istri Khalid).

 

فَاصْطَدَمَ الْمُسْلِمُوْنَ وَ الْكُفَّارُ فَكَانَتْ جَوْلَةٌ وَ انْهَزَمَتِ اْلاَعْرَابُ حَتَّى دَخَلَتْ بَنُوْ حَنِيْفَةَ خَيْمَةَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيْدِ وَ هَمُّوْا بِقَتْلِ اُمّ تَمِيْمٍ، حَتَّى اَجَارَهَا مَجَّاعَةُ وَ قَالَ: نِعْمَتِ الْحُرَّةُ هذِهِ، وَ قَدْ قُتِلَ الرَّجَّالُ بْنُ عُنْفُوَةَ لَعَنَهُ اللهُ فِي هذِهِ الْجَوْلَةِ، قَتَلَهُ زَيْدُ بْنُ الْخَطَّابِ

Pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, serangan silih berganti, namun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailimah. Kaum muslimin mulai terdesak, hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin Walid dan hampir membunuh Ummu Tamim, seandainya tidak dilindungi oleh Majja’ah dengan mengatakan, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat baik dan mulia”.

 

Pada waktu terjadi serangan balik inilah Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah tewas terbunuh, semoga Allah mela’natnya, ia dibunuh oleh Zaid bin  Khaththab.

 

 📖Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 716

 

WALLOHUL WALIYYUT TAUFIQ ILA SABILUL HUDA

Sumber materi asal :

http://wiyonggoputih.blogspot.com/2017/04/kisah-peperangan-di-aqroba.html?m=1

 repost by pangeranjati@unissula

Biografi Syekh Muhammad Al-Jazuli

 Syekh Muhammad Al-Jazuli memperbaharui Thoriqot di Maghribi setelah pengaruh-pengaruh dari pengajarannya. Syekh Muhammad Al-Jazuli benar-benar seorang yang mencurahkan waktunya untuk menolong dan memberikan manfa’at kepada ummat Beliau juga mengutus para sahabatnya keberbagai negeri untuk menda’wahkan hukum Allah dan mendorong mereka ke jalan Allah.

Banyak sekali orang mengikuti dan mengamalkan Thoriqotnya. Mereka juga banyak yang datang langsung kepada Syekh Muhammad A1-Jazuli untuk bertaqurrub dan mencari ridho Allah. Pengikutnya itu mencapai 12665 orang dimana kesemuanya itu bisa mendapatkan fadhilah menurut kadar martabat dan kedekatan mereka dengan Syekh Muhammad Al-Jazuli.

Adapun murid-murid beliau banyak sekali, diantaranya adalah  Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli dimana beliau adalah yang tertua dan sahabatnya yang lain, yang menemaninya dalam meriwayatkan Dalail. Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari kemudian Syekh Abdul ‘Aziz Ab-Tiba’ dan beliaulah Sayid dan Gum Sanadku (Mu’aUif dintana Guru saya Sayid Ahmad Musa Al-Samlali berguru kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Abbas A1-Shom’i berguru kepadanya dan kemudian Sayid Mufri Abdul Qodir Al-Fasi belajar kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Al-Haj belajar kepadanya kemudian Sayid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Al-Matsani belajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad bin Abmad Al-Mudghiri belajar kepadanya dan kemudian Sayid All bin Yusuf Al-Hariri Al-Madanibelajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad Amin Al-Madani belajar kepadanya dan kemudian Al-Quthbu Al-Rais Sayid Muhammad Idris belajar kepadanya dan kemudian Al Quthbu Al-Rasyid Sayid Abdul Mu’id radliyallahu ‘anhurn dan santrinya yang dijuluki dengan Muhammad Ma’ruf yang belajar kepadanya.

 

3.1. MURID SYEKH MUHAMMAD AL JAZULI

Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli,

Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari,

Syekh Abdul ‘Aziz Ab-Tiba’.

 

4.KAROMAH SYEKH MUHAMMAD AL JAZULI

Sebagian dan keramatnya adalah setelah 77 tahun dari wafat beliau, makam beliau dipindahkan Maralisy, dan ternyata ketika jenazah beliau dikeluarkan dari kubur, keadaan jenazah itu masih utuh seperti ketika beliau dimakamkan. Rambut dan jenggot beliau masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari beliau dimakamkan. Makam beliau di Markasy sering diziarahi oleh banyak orang.

Sebagian besar dan peziarah itu membaca Dalil al Khairat disana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak di bacakan sholawat salam kepada Nabi Muhamad SAW, para sahabat dan keluarga beliau. kisah wangi semerbak itu adalah sebagian dari sejarah yang lain tentang beliau bahwa para orang sholeh dari berbagai penjuru dari masa ke masa senantiasa membaca dan mengamalkan kitab beliau yaitu dalail al khoirot.

Akhirnya beliau mendapat perdikat sebagai seutama-utamanya orang yang bersama Rasul SAW kelak karena banyaknya pengikut beliau untuk membaca Sholawat, sebagai mana Rasulullah SAW bersabda, “Seutama utama manusia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca Sholawat untukku”

 

5.UNTAIAN KATA ULAMA KEPADA BELIAU

Syekh al-Khafidh Abu Na’im berkata, “ Sejarah besar tentang Syeh Muhamad Al-Jazuli ini benar-benar sesuai dengan hadis dan fatwa para sahabat tentang membaca sholawat kepada Nabi saya telah menuqilnya meskipun banyak para ulama’ yang mengetahuinya secara pasti, sebagai mana disabdakan Nabi, “Sedekat-dekatnya orang yang lebih berhak mendapat syafa’atku pada hari kiamat besok adalah orang yang paling banyak membaca sholawat pada waktu ia masih di dunia”

 

6.SEJARAH MENJELANG MENGARANG KITAB DALAILUL KHOIROT

Adapun sebab musabah beliau mengarang kitab Dalailul Khoirot adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur, tetapi beliau tidak menjumpai seorangpun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudhu.

Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur itu dalam keadaan bingung karena tidak ada alat untuk menimba air. Tetapi kemudian beliau dilihat oleh seorang anak perempuan kecil yang berusiya sekitar tujuh tahun. Anak itu bertanya kepada Sayid Muhammad al-Jazuli,

“Ya Syekh, mengapa anda nampak bingung berputar-putar disekitar sumur Syekh menjawab,”Saya Muhammad bin sulaiman”.

Anak itu bertanya lagi, “Apa yang hendak tuan kebijakan ?“.

Syekh menjawab, “Waktu shalat dhuhurku sudah sempit, tetapi saya belum mendapatkan air untuk berwudhu”.

Anak kecil itu bertanya, apakah dengan namamu yang sudah terkenal ia tidak bisa (hanya sekedar) mendapatkan air wudhu dari dalam sumur? Tunggulah sebentar!“

Kemudian anak kecil itu mendekat ke bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancarkan di sekitan sumur seperti sungai besar.

Kemudian anak kecil itu pulang kerumahnya, dan Syekh Muhammad Al-Jazuli pun segera berwudhu dan melaksanakan sholat dhuhur.

Setelah Al -Jazuli selesai melaksanakan shalatnya Syekh Muhammad bergegas mendatangi anak perempuan kecil itu, sesampainya di sana beliau mengetuk pintu. Anak kecil itu berkata, “Siapa itu ?“, maka syekh menjawab, “Wahai anak perempuanku, saya bertanya kepadamu, demi Allah dan kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu dan menunjuikan kepadamu terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulmu yang diharap-harapkan syafaatnya, saya harap engkau mau menemuiku, saya hendak menanyakan tentang satu hal”.

Ketika anak itu menemui beliau, Syekh Muhammad Al-Jazuli bersumpah, “Aku bersumpah kepadamu demi kemahaagungan Allah, demi kemahakuasaan-Nya, demi kemahamemberi-Nya, demi kemahasempurnaan-Nya dan demi Nabi Muhammad yang sholawat salam atas beliau, para shahabat, isteri dan putra-putra beliau, demi risalah beliau dan demi syafaat beliau, aku mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapatkan martabat yang tinggi sehingga dapat mengeluarkan air dan sumur tanpa menimba?“.

 Anak perempuan kecil itu menjawab, : “Kalaulah tidak karena sumpahmu itu wahai Syekh, tentulah aku tidak mau menceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW” Setelah peristiwa itu kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli radliallahu anhu mengarang kitab “Dalail al Khairat” di kota Fas. Dan sebelum beliau mensosialisasikan kitab itu ia mendapat ilham untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dari Fas kedesa beliau ditepi daerah Jazulah. Kemudian beliau dengan kesendiriannya itu bertemu Syekh Abu Abdilah Muhammad bin Abdullah Al-Shaghir seorang penduduk dipinggiran desa dan beliau berguru Dalail kepadanya.

Kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli melaksanakan kholwat untuk beribadah selama 14 tahun dan kemudian keluar dan kholwatnya untuk mengabdikan diri dan menyempurnakan pentashihan (pembetulan) kitab “Dalait al Khoirot” pada hari jum’at, 6 Rabi’ul Awwal 82 H. delapan tahun sebelum hari wafatnya.

 

7.KARYA BELIAU

Adapun karya beliau Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli yang paling terkenal adalah Dalailul Khoirot.

 

8.REFERENSI

📖Kitab Mathali’ al-Masarrat bi Jilai Dalail al-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Hadi bin Ahmad bin ‘Ali bin Yusuf Al-Fasi dan dari berbagai sumber yang mendukung.

Sumber materi asal :

https://www.laduni.id/post/read/74979/biografi-syekh-muhammad-bin-sulaiman-al-jazuli

 repost by pangeranjati@UNISSULA

TOKOH IMAM BUSHIRI, PENYAIR ULUNG QASIDAH BURDAH

Imam Bushiri dikenal sebagai imam para penyair, ahli di berbagai bidang ilmu, kharismatik, dengan ketakwaan yang sempurna dan  keluhuran budi pekerti, selalu menghargai dan membalas kebaikan orang lain. Keistimewaan beliau dalam sifat terpuji telah melambung tinggi. Nama asli beliau adalah Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shonhaj bin Hilal as-Shonhaji al-Bushiri.

Imam Bushiri dilahirkan pada hari Selasa 1 Syawal 608 H di Dallaz, salah satu desa di dataran tinggi Mesir yang ditempati keluarga Bani Suwaif. Julukan “Bushiri" dinisbatkan kepada salah satu orang tuanya yang berasal dari daerah Bushir Mesir. Sedangkan kata “Shonhaji” ialah nama kabilah suku barbar yang bertempat tinggal di gurun pasir sebelah barat Maghrib Aqha (sekarang Maroko).

Imam Bushiri berpindah dari desa kelahirannya bersama keluarga menuju Kairo guna melazimi halaqoh-halaqoh keilmuan para ulama termashyur. Beliau sangat tekun dalam belajar hingga dapat menguasai berbagai macam ilmu dalam waktu yang sangat singkat. Ilmu yang menjadi kegemarannya adalah sastra Arab. Selain itu, beliau juga mampu menghafal seluruh isi Al-Quran serta memahami isi kandungannya.

Setelah menjadi ulama ternama, beliau mencetak banyak ulama tersohor. Di antara muridnya yang menjadi unggulan adalah Abu Hayyan Asiruddin Muhammad bin Yusuf al-Gharnathi al-Andalusi, Fathuddin Abu al-Fath Muhammad bin Muhammad al-Amri al-Andalusi al-Isybili al-Mishri yang kerap dikenal dengan gelar "Ibnu Sayyid an-Nas" (Putra dari Penghulu manusia). Masih banyak lagi ulama yang terlahir dari didikan beliau.

Semasa muda, Imam Bushiri sering kali mengarang nadhom dan syair-syair berbahasa Arab. Hal itu dilandasi atas rasa cintanya pada bahasa Arab yang tinggi, hingga akhirnya beliau tuangkan bukti kecintaannya dalam sebuah karya tulis.

Ciri khas syair yang terlahir dari pena beliau dan menjadi pembeda syair selainnya, ialah kandungan makna di dalamnya. Terdapat pesan dan hikmah yang begitu mendalam hingga mampu membuat si pembaca seolah-olah tenggelam dalam samudera kearifan.

Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyah pernah menuturkan kisah hidup Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri adalah penyair ulung yang dekat dengan para pengusa di zamannya. Memberikan pujian terhadap mereka adalah kepiawaiannya. Beliau mendapatkan tempat adiluhung di mata para penguasa.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah disingkapkannya keburukan nafsu orang-orang di sekitarnya, Imam Bushiri tersadar dan mulai menjauh dari mereka. Penyesalan Imam Bushiri menjadi-jadi ketika Allah membuka hatinya. Dirinya terlalu dilenakan oleh keindahan dunia yang fana.

Semenjak itu, beliau mengubah rutinitasnya dengan mulai mendekatkan diri kepada Allah swt. melalui tulisan syair-syair yang berisikan tentang pujian kepada kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad saw.

Tidak ada syair yang mampu membandingi syair yang ditulisnya. Keikhlasan serta kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. mengantarkan dirinya kepada tingkat kemuliaan dan mashyur di kalangan para wali Allah di bumi serta malaikat di langit.

Guru Spritual yang berperan penting bagi Imam Bushiri semasa hidupnya ialah Wali Quthub Sayyidi Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Sanad keilmuannya bersambung hingga Sayyidi Abu al-Hasan asy-Syadzili. Dari beliau Imam Bushiri mendapatkan ilmu dzahir dan batin.

 

ADIKARYA WARISAN IMAM BUSHIRI

 

Imam Bushiri mewariskan segudang karya qasidah yang tak bisa diserupai orang lain. Terutama Burdah, sebuah qasidah yang berceritakan pujian kepada Nabi Muhammad saw. Qasidah ini tersebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan telah dijadikan adat mingguan yang dilakukan oleh para keluarga Bani Alawi di Hadramaut.

Qasidah Burdah mashyur di kalangan umat muslim. Para ulama meyakini adanya keberkahan yang terkandung dalamnya. Hal itu disebabkan dari kisah yang dialami sendiri oleh Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri tertimpa penyakit kronis yang melumpuhkan fungsi sebagian organ tubuhnya. Kala itu, para dokter memvonis penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Gundah melihat kondisi yang dialaminya, beliau bertekad untuk menuliskan sebuah qasidah berisikan pujian kepada Nabi, berharap agar Allah swt menyembuhkan dirinya berkat shalawat kepada sang kekasih.

Imam Bushiri mulai menulis dan mengarang qasidah Burdah, sembari membayangkan bahwa Rasulullah saw. berada di dekatnya dan mengawasi apa yang ia tulis.

Setelah sampai pada bait terakhir, beliau tertidur. Dalam mimpinya, dia bertemu dengan Rasulullah saw.

Beliau melihat Rasulullah saw. mengusapkan tangannya yang mulia ke tubuh Imam Bushiri serta memakaikan burdah kepadanya. Tak lama kemudian, Imam Bushiri kembali tersadar dan mendapati dirinya telah sehat dan pulih kembali sedia kala.

Penamaan Burdah dinisbatkan kepada kisah seorang sahabat yang bernama Ka'ab bin Zuhair, salah seorang penyair Rasulullah saw.

Rasulullah saw. pernah memasangkan burdah (selimut berbulu hitam) mulia kepada Ka'ab. Hal itu tidak beliau lakukan melainkan sebagai tanda dan bentuk rasa cinta beliau kepadanya. Oleh karenanya, nama burdah lalu dipakai untuk para penyair Rasulullah dari generasi ke generasi.

 

PERAN IMAM BUSHIRI DALAM DUNIA SYAIR

Sebelum berpulang ke rahmat Allah, Imam Bushiri sempat meninggalkan banyak karya yang bertuliskan syair serta qasidah-qasidah pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Karyanya terhimpun dalam sebuah diwan syair yang dicetak di negeri Mesir pada tahun 1373 H. Di antara qasidah yang termashyur adalah Qasidah Burdah yang berjudul Al-Kawakib Ad-Durriyyah fi Madhi Khoiril Bariyyah, kemudian qasidah Al-Mudhiriyyah fi fi Madhi Khoiril Bariyyah,qasidah Al-Khumriyyah, qasidah Dzuhrul Mu'ad dan lain-lain.

Keajaiban dari qasidah Imam Bushiri adalah tidak ada satupun qasidah yang mencapai tingkat kesempurnaan dalam dari segi tatanan bahasa dan makna kecuali qasidah Burdah.

Kelebihan itu tidak akan terjadi kecuali setelah datangnya pertolongan dan keridhaan dari Nabi Muhammad saw. atas niatnya yang tulus, aqidahnya yang bersih, serta keimanannya yang kuat. Bahkan Imam Bushiri layaknya sahabat Hasan bin Tsabit penyair Rasulullah saw. di masa hidupnya. Syair yang dilantukan oleh Hasan bin Tsabit adalah syair yang ditujukan untuk membela Rasulullah Saw beserta para sahabatnya ketika melawan kaum musyrikin.

Imam Bushiri wafat 695 H dalam usia 86 tahun. Beliau disemayamkan dekat dengan makam gurunya, Syeikh Abu al-Abbas al-Mursi di kota Iskandariyyah, Mesir. Wallahu a'lam bis hawab.

 

📚Referensi:

📖Al-Wafi bi al-Alwafiyat, karya Sholahuddin Kholil bin Abdillah As-Shofdi.

📖Fawatul Wafayat, karya Muhammad bin Syakir Al-Katbi.

📖Husnul Muhadhoroh fi Akhbar Misrha wal Qohirah, karya Imam Suyuthi.

📖Mausuatul Mafahim al-Islamiyyah, karya Ali bin Nayyif As-Syahud.

📖Syadzarat at-Dzahab fii Akhbari man Dzahab, karya Ibnu Imad Al-Hanbali.

📖Syarah Qasidah Burdah, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.

 

 

Sumber materi asal :

https://sanadmedia.com/post/imam-bushiri-penyair-qasidah-burdah

 

repost by pangeranjati@UNISSULA

Kamis, 12 Januari 2023

Kata-kata Bijak Gus Baha yang Menyejukkan Hati

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, lebih dikenal sebagai Gus Baha, lahir 29 September 1970 merupakan ulama yang berasal dari Rembang. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair.


Gus Baha' kecil dididik belajar dan menghafalkan al-Qur'an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan oleh guru ayahnya, yaitu KH. Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha’ di usianya yang masih muda, mampu menghafalkan Al-Qur'an 30 Juz beserta Qira'ahnya.


Teladan yang bisa ditiru dari Gus Baha' adalah tentang kesederhanaanya. Kesederhanaan yang dipraktikan Gus Baha’ bukan berarti keluarga Gus Baha’ adalah keluarga yang miskin, karena kalau dilihat dari silsilah lingkungan keluarganya, tiada satupun keluarganya yang miskin. Bahkan kakek Gus Baha’ dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya.

Berikut ini adalah kata kata bijak Gus Baha yang menyejukkan hati :


1. Jangan membenci orang yang sedang kafir saat ini, bisa saja suatu saat orang tersebutlah yang mensyafaati kamu. Tirulah Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk Sayyidina Umar Bin Khatab yang saat itu sedang kafir.


2. Jika dalam menghadapi hidup ada moment yang sangat berat, sehingga tak kuasa membendung tangis, maka istirahatlah sebentar. Kadang, beban itu perlu dilepaskan sebentar, tidak harus dipikul terus.


3. Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril.


4. Orang yang tidak mampu melihat kekurangannya sendiri, sulit bisa melihat kelebihan orang lain.


5. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil, padahal dari sanalah sesuatu yang besar lahir dan tumbuh.


6. Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta hamba pada Tuhannya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu terasa aneh di mata kita.


7. Kalau malaikat datang dan memberitahu saya bahwa kelak saya akan masuk neraka selamanya, apakah saya akan berhenti menyembah Tuhan? Tidak. Saya akan terus menyembah Tuhan.


8. Harapan dan keinginan ini seharusnya sejalan. Ya sejalan dengan betapa besar usaha yang kamu lakukan dalam mewujudkannya.


9. Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya, seolah-olah apa yang ada dipikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.


10. Hidup tidak usah dibuat sulit, tidak usah ruwet. Asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup


11. Kalau niat sholat jangan hanya karena diterima sholatnya saja, itu nafsu. Niatlah sholat karena kamu merasa diciptakan dan ditakdirkan untuk sujud, karena faktanya Gusti Allah memang pantasnya disujudi.


12. Cinta mungkin terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadanya, karena cinta darinya bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.


13. Jangan pernah putus asa saat merasa dalam kesulitan, sebab Allah menyertakan kemudahan setelah kesulitan.


14. Allah tidak pernah ingkar pada hamba-Nya, meski sekecil biji Zarrah pun janji Allah selalu ditepati.


15. Sabarmu akan terbayar, lelahmu akan hilang, sakitmu akan sembuh, kamu harus ingat, Allah tidak buta.


16. Kita ini mudah mencintai orang yang berjasa dalam hidup kita, tapi kenapa tidak mudah mencintai Allah yang jasa-jasanya sangat besar dalam hidup kita.



🌏 Semoga bermanfaat....

repost by pangeranjati@UNISSULA

Senin, 26 Desember 2022

5 Hal Yang Selalu Menggoda Nabi ﷺ Dan Umatnya | Periwayatan Isra' Mi'raj

1. Penyeru Yahudi Dari Arah Kanan


Dan seterusnya Baginda Nabi ﷺ berjalan dan mendengar ada suara orang memanggil-manggil di sebelah kanannya: "Wahai Muhammad! Lihatlah sebentar padaku. Aku mau bertanya kepadamu. Baginda Nabi ﷺ tidak menjawab panggilan orang tersebut."


Baginda ﷺ bertanya kepada Jibril: "Panggilan ini dari siapa wahai Jibril?"


Jibril As berkata: "Ini adalah suara penyeru agama Yahudi, seandainya engkau menjawab panggilannya itu niscaya umatmu akan condong hati kepada agama Yahudi."


2. Penyeru Nasrani Dari Arah Kiri


Dan dalam masa Baginda Nabi ﷺ meneruskan perjalanan, tiba-tiba Baginda ﷺ dipanggil oleh satu suara dari arah kirinya: "Wahai Muhammad! Lihatlah sebentar padaku, aku mau bertanya kepadamu. Baginda ﷺ tidak memperdulikan seruan itu dan meneruskan perjalanannya."


Baginda Nabi ﷺ bertanya: "Apakah gerangan orang yang menyeru itu wahai Jibril?"


Jibril As menjawab: "Itu adalah suara penyeru agama Nasrani, kalau seandainya engkau menjawab panggilannya, niscaya umatmu akan cenderung hati kepada mengikuti agama Nasrani."


3. Perempuan Berhias Menggoda Nabi ﷺ


Dan ketika Baginda Nabi ﷺ kembali meneruskan perjalanannya tiba-tiba Baginda ﷺ di sapa oleh seorang perempuan yang memakai pakaian seksi, menampakkan kedua lengannya, menampakkan perhiasan yang berkilauan yang diciptakan oleh Allah Ta'ala. 


Lalu ia memanggil Nabi ﷺ: "Ya Muhammad! Lihatlah sebentar padaku. Aku mau bertanya kepadamu. Baginda ﷺ tidak menoleh dan tidak menjawab panggilannya."


Baginda ﷺ bertanya kepada Jibril: "Siapakah si perempuan itu wahai Jibril?."


Jibril As berkata: "Itulah Dunia yang mempesonakan. Seandainya engkau menyahut rayuannya maka umatmu pasti akan memilih dunia daripada memilih akhirat."


4. Lelaki Tua Memanggil Nabi ﷺ

 

Dan Baginda Nabi ﷺ dalam perjalanannya tiba-tiba Baginda ﷺ bertemu dengan seorang lelaki tua yang memanggil-manggil Baginda Nabi ﷺ dari tepi sebuah jalan ia berkata: "Kesinilah sebentar wahai Muhammad."


Maka Jibril memerintahkan Nabi ﷺ: "Teruskanlah berjalan, jangan memperdulikannya wahai Muhammad!."


Baginda Nabi ﷺ bertanya: "Siapakah lelaki tua ini wahai Jibril?."


Jibril berkata: "Inilah musuh Allah Iblis yang terkutuk. Ia ingin mempengaruhimu agar cenderung hatimu kepadanya."


5. Perempuan Tua Di Pinggir Jalan


Ketika Baginda Nabi ﷺ asyik menikmati perjalan Isra' yang panjang itu, tiba-tiba Baginda ﷺ bertemu dengan seorang perempuan tua yang berada di pinggir jalan. 


Perempuan tua itu berkata: "Ya Muhammad!, Lihatlah sebentar padaku, aku mau bertanya sesuatu kepadamu." Baginda Nabi ﷺ tidak pun menoleh kepada perempuan itu apalagi mau berbicara dengannya.


Baginda Nabi ﷺ bertanya: "Siapakah perempuan tua itu Wahai Jibril?." 


Jibril berkata: "Sesungguhnya tidaklah tertinggal lagi dari umur dunia ini melainkan seperti sisa umur pada perempuan yang tua ini."


اللهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِ سيِّدنا محمَّد. 


@Pena_Tarim @PerbanyakShalawat


📚 Al Anwarul Bahiyyah Min Isra' Wa Mi'raji Khairil Bariyyah (H51)

repost by pangeranjati@ UNISSULA

Senin, 19 Desember 2022

KERINDUAN RASULULLAH

السَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَــــــــــاتُه

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آل سَيِّدِنَا مُحمَّـــدْ


Pada suatu hari Baginda Rasulullah ﷺ bertanya kepada para Sahabat :

“Siapakah hamba Allah ﷻ yang paling MuLia?”.

Para Sahabat menjawab :

“Tentu para Malaikat Yaa Rasulullah ﷺ dan tentuLah para Nabi, merekalah yang MuLia”.


Baginda Rasulullah ﷺ Tersenyum lalu beliau berkata kepada para sahabat : 

“Betul, mereka MuLia tapi ada yang lebih Mulia”. Para sahabat terdiam lalu berkata : 

“Adakah diantara kami yang Mulia itu Yaa Rasulullah ﷺ ?”.

Baginda Rasulullah ﷺ berkata :

“Tentulah kalian yang Mulia, kalian adalah sahabat sahabatKu, kalian dekat denganKu, kalian membantu perjuanganKu karena Allah ﷻ, Tetapi bukanlah kalian yang aku maksud”.


Baginda Rasulullah ﷺ Lalu menundukkan wajahnya, sang kekasih Allah ﷻ Meneteskan air matanya, Sehingga air mata Baginda Rasulullah ﷺ membasahi pipi dan janggutnya, Lalu beliaupun bersabda; 

“Wahai sahabatKu, mereka adalah manusia, manusia yang Lahir jauh seteLah Wafatnya aku, mereka sangat mencintai Allah ﷻ dan mereka mencintaiKu.


“Tahukah kaLian wahai sahabat-sahabatKu, mereka tidak pernah melihatKu, mereka hidup tidak dekat denganKu seperti dekatnya kaLian kepadaKu.

Tetapi mereka sangat Rindu kepadaKu dan SaksikanLah wahai para sahabatKu bahwa aku sangat Rindu kepada mereka, mereka adaLah Ummatku”


اَمِـيْن اللَّهُــمَّ اَمِـيْن يَارَبَّ الْـعَالَـمِـيْن

وَ اللَّهُ اَعْـلَـمُ بِالـصَّوَابِ

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ..


•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•

✒️𝐏𝐞𝐫𝐢𝐧𝐝𝐮 𝐒𝐲𝐚𝐟𝐚'𝐚𝐭 𝐑𝐚𝐬𝐮𝐥𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 ﷺ

[ﷺ۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞ﷺ]

𝐒𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚'𝐚𝐭🏆

🔰𝐏𝐞𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐓𝐚𝐫𝐢𝐦🔰

repost by pangeranjati @ UNISSULA

Senin, 12 Desember 2022

Bertamu dengan cara Nabi ﷺ

 


1. Minta Izin Maksimal Tiga Kali

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali.

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk

Terkadang seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk. Allah

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu

Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga mengganggu pemilik rumah. Baik karena kerasnya atau cara mengetuknya. Maka, hendaknya ketukan itu adalah ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah.

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk

Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah.

5. Tidak Mengintip

Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan memberi ancaman kepada para pengintip,

6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang

Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam.

Repost oleh Pangeranjati @ UNISSULA

Selasa, 06 Desember 2022

Gurauan Para Sahabat (Bagian-2)

Dari Abu Ad-Darda', ia berkata, "Aku biarkan jiwaku dengan sesuatu yang batil akan tetapi tidak haram, maka itu menjadikannya lebih kuat untuk melakukan kebenaran." (1)


Diriwayatkan dari An-Nakha'i, bahwa ia ditanya tentang sahabat- sahabat Rasulullah ﷺ, apakah mereka tertawa dan bercanda? Ia menjawab, "Ya, sedangkan iman di hati mereka seperti gunung-gunung yang kokoh."


Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, ia berkata, "Para sahabat Rasulullah ﷺ itu tidak menyimpang dan tidak pula lesu. Mereka membaca syair di majlis-majlis mereka dan mereka menyebutkan perkara-perkara di masa jahiliah mereka. Jika salah seorang mereka menginginkan sesuatu dari perkara agamanya, maka kedua bola matanya berputar." (2)


Dari Bakr bin Abdillah Al-Muzani, ia berkata, "Para sahabat Rasulullah ﷺ itu saling melempar dengan semangka. Akan tetapi dalam kebenaran, mereka adalah para tokohnya," (3)


Dari Nafi' Maula Abdillah bin Umar, ia berkata, "Ibnu Umar bercanda dengan seorang hamba sahaya perempuannya, ia berkata kepadanya, "Yang menciptakan aku adalah Pencipta Yang Maha Mulia dan yang menciptakanmu adalah Pencipta Yang Pantas." Hamba sahaya perempuannya itu marah, berteriak dan menangis. Maka Abdullah bin Umar pun tertawa. (4)


اللهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِ سيِّدنا محمَّد. 


@Pena_Tarim @PerbanyakShalawat


(1) Ibnu Abdilbarr, Bahjat Al-Majalis, hal.115; Qadhaya Al-Lahw wa Ar-Tarfih, hal. 130-132.

(2) Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan Sanad Hasan."

(3) Shahih Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (41)

(4) Disebutkan oleh Abul Barakat dalam Al-Mirah fi Al-Mizah, hal.31.

repost by pangeranjati @ unissula

Gurauan Para Sahabat (Bagian-1)

 Para sahabat Rasulullah ﷺ -semoga Allah meridhai mereka- adalah contoh muslim yang seimbang dalam kehidupan antara kebutuhan ruh dan tuntutan jasad. Menggunakan keduanya dalam menjaga keseimbangan dengan mengikuti pribadi Rasulullah ﷺ. Mengambil inspirasi dari sejarah dan akhlak Rasulullah ﷺ dalam hal gurauan dan hiburan, sesuai dengan kadar yang layak dari jauh dari sikap berlebihan yang dapat melepaskan manusia dari fungsinya yang suci dan sikap yang dapat menodai jiwa dalam perjalanannya menuju kesempurnaan dan ketinggian ruh dalam derajat keimanan dan kebaikan.


Berikut ini beberapa kutipan dari ucapan mereka dan petikan tentang kehidupan mereka yang menjadi bukti terhadap sikap moderat mereka dan gurauan yang pernah mereka lakukan:


Dari ucapan Ali bin Abi Thalib, "Hiburlah hati, berilah ia petikan-petikan hikmah, karena hati juga merasakan jemu sebagaimana badan merasa bosan." (1)


Abdullah bin Mas'ud berkata, "Tenangkanlah hati, karena jika hati itu dipaksa, maka ia akan menjadi buta."


Beliau juga pernah berkata, "Sesungguhnya hati itu memiliki keinginan, sikap menerima, jemu dan menolak. Gunakanlah ia ketika ia berkeinginan dan mau menerima dan biarkanlah ia ketika ia sedang jemu dan dalam keadaan menolak." (2)


Ali bin Abi Thalib berkata, "Boleh bercanda, jika itu bisa mengeluarkan seseorang dari batasan bermasam buka (cemberut)." (3)


Dari Abu Najih, dari Bapaknya, ia berkata, "Umar bin Al-Khathab berkata, "Aku lebih suka jika seseorang itu seperti seorang anak-anak di tengah keluarganya. Akan tetapi jika ia dibutuhkan, maka ia adalah seorang laki-laki dewasa." (4)


[ Bersambung ke Bagian-2 | Insyaallah ]


اللهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِ سيِّدنا محمَّد. 


@Pena_Tarim @PerbanyakShalawat


(1) Ibnu 'Abdil Barr An-Namari, Bahjat Al-Majalis wa Uns Al Majalis, hal. 115.

(2) Ibnu 'Abdil Barr An-Namari, Bahjat Al-Majalis wa Uns Al Majalis, hal. 115.

(3) Disebutkan oleh Abul Barakat dalam Al-Mirab fi Al-Mizah, hal.24 dan 29

(4) Disebutkan oleh Abul Barakat dalam Al-Mirab fi Al-Mizah, hal.24 dan 29

repost by pangeranjati @ unissula

SEKILAS SEJARAH TULISAN BAHASA ARAB

 A. PENDAHULUAN


Bahasa Arab (اللغة العربية ) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semitik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur dari pada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur'an.

Huruf Arab digunakan di berbagai belahan dunia, urutan kedua di bawah huruf Romawi/Latin. Orang-orang Arab zaman dulu menyukai kehidupan yang berpindah-pindah, lama sekali mereka terbiasa berkomunikasi secara lisan saja.

Dibandingkan dengan orang-orang Mesir, Babylonia, ataupun Cina, mereka terlambat berkenalan dengan huruf. Mereka tidak berpengalaman dalam bahasa tulisan. Bahkan puisipun dipelihara lewat bahasa lisan. Sebaliknya, bagi orang-orang Phoenic, yang bertempat tinggal di Libanon, pada sekitar 1100 sebelum Masehi telah mengembangkan Alfabet sebanyak 22 huruf. Alfabet ini merupakan hasil dari penyederhanaan untuk memudahkan komunikasi di antara mereka.

Bagi orang-orang yang tinggal di Syna, alfabet sederhana ini diadaptasikan ke dialek kaum Semit. Orang-orang Nabatean, orang Arab yang hidupnya semi-nomaden, dan mendiami wilayah Sinai dan Arab Utara hingga Syria Selatan, terkenal melalui kota Petra dan Madina Al-Saleh. Mereka mengembangkan naskah yang diturunkan dari naskah orang-orang Aram. Dengan orang-orang Aram ini, mereka memiliki hubungan dagang dan kebudayaan. Bahasa dan tulisan mereka pernah mengalami kerusakan ketika wilayah kekuasaan mereka direbut orang-orang Romawi (pada tahun 105 M).Perkembangan berikutnya yang mengubah huruf Nabatean menjadi Arabik terjadi pada Abad ke-6, yang kemudian tak ada lagi perubahan yang mendasar pada huruf Arab tersebut sampai kini. Hal ini memudahkan kita untuk mengenali dan membaca bahasa yang tercantum di dalam kitab suci Al Qur’an.

Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan sekilas tentang kronologis bagaimana tulisan Arab (hijaiyah) itu muncul dan tumbuh kembangnya dalam sejarah. Persoalan-persoalan yang terjadi dalam kurun sejarah tulisan Arab. Tulisan ini jauh dari ilmiah dan masih membutuhkan banyak sumber-sumber yang otoritatif. Meskipun demikian, penulis mengharapkan dari adanya tulisan ini dikemudian hari banyak pembahasan yang lebih mendalam dengan topik yang tidak jauh berbeda.

B. SEJARAH MUNCULNYA TANDA HURUF

Huruf atau tulisan adalah salah satu sarana untuk menyatakan kehendak, cipta dan rasa. Ketika orang belum mengenal alat komunikasi modern seperti telepon, internet dan lainnya mereka telah terlebih dahulu mengenal huruf. Manusia memiliki bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi dengan sesamanya, baik berkomunikasi melalui lisan, tulisan ataupun isyarat. Semuanya merupakan sarana untuk mengapresiasi kebutuhan hidup manusia.

Pada awalnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau dengan bahasa isyarat. Namun, ada banyak hal yang ternyata sulit dikomunikasikan dengan dua cara tersebut, dan membutuhkan cara yang ketiga, yaitu bahasa tulis. Dari sini, muncul kebutuhan akan bahasa tulis. Bahasa tulis tidak serta merta tersusun dari huruf-huruf seperti saat ini. Bahasa tulis terlebih dahulu melalui beberapa fase perkembangan dan penyempurnaan untuk dapat menjadi seperti sekarang.

Fase pertama al-shauri al-dzati,

mendeskripsikan suatu peristiwa melalui gambar itu sendiri. Dalam hal ini, gambar menjadi bahasa tulis yang berupaya menceritakan suatu kejadian atau peristiwa. Fase ini adalah fase paling sederhana tetapi juga bersifat terbatas. Terbatas pada peristiwa-peristiwa yang dapat dideskripsikan melalui gambar, seperti gunung meletus, diserang binatang buas dan lainnya. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: FASE KEDUA AL-SHAURI AL-RAMZI,

mendeskripsikan suatu peristiwa, waktu terjadinya, atau situasi dan kondisi pada saat terjadi melalui makna yang dilambangkan oleh suatu gambar. Bahasa ini lebih luas dan dipergunakan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak dapat digambarkan oleh al-shauri al-dzati. Seperti perasaan orang-orang yang tertimpa gunung meletus, perasaan benci, cinta dan lainnya.

FASE KETIGA AL-MAQTHO’I,

perjalanan waktu menjadikan kebutuhan hidup manusia bertambah banyak dan bervariasi. Bahasa tulis yang menggunakan gambar-gambar tersebut kadang kala tidak dapat ditangkap maksudnya oleh penerima (komunikan), atau penerima keliru dalam memahami maksud pengirim berita (komunikator), sehingga pesan tidak berjalan seiring. Atau karena peristiwa yang diceritakan panjang membuat gambar yang di tulis juga panjang dan banyak. Hal ini dianggap tidak efektif dan efisien sebab membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran lebih banyak. Faktor-faktor ini yang kemudian mendorong dibuatnya maqtho’ (tanda-tanda) yang dapat menggantikan fungsi gambar sebagai bahasa tulis. Maqtho’ ini ada yang dipakai dan disepakati oleh komunitas di daerah tertentu, ada yang dipakai dan dipahami sama (kebetulan atau tidak) oleh banyak komunitas di berbagai daerah. Misalnya, tanda kepala ‘ain sebagai ganti gambar yang menunjukkan arti musuh, tanda kepala syin sebagai ganti gambar yang menunjukkan pohon atau hutan dan lain-lain. Meskipun tanda-tanda ini terkadang tidak menunjukkan adanya hubungan yang logis dengan gambar yang ditandai, tetapi cara demikian dipakai oleh para pengguna bahasa tulis pada masanya.

FASE BERIKUTNYA AL-HIJA’I, dalam perkembangan selanjutnya, maqtho’-maqtho’ tersebut menjadi huruf setelah mengalami akulturasi.[1]

C. DEFINISI HIJAIYAH

Kata huruf berasal dari bahasa arab harf atau huruuf (حرف او حروف). Huruf arab disebut juga huruf hija’iyah (هجائية) . Kata hija’iyah berasal dari kata kerja hajjaa (هجى)yang artinya mengeja, menghitung huruf, membaca huruf demi huruf.[2]

Huruf hija’iyah disebut pula huruuf tahjiyyah (حروف تهجية) .
Huruf hijaiyah disebut juga alfabet arab. Kata alfabet itu sendiri berasal dari bahasa arab alif, ba’, ta’.[3]

Kata abjad juga berasal dari bahasa arab a-ba-ja-dun; alif, ba’, ta’, jim, dan dal (أبجد) . Namun ada pula yang menolak pendapat ini dengan alasan, huruf hijaiyah mempunyai aturan urutan yang berbeda dengan terminologi abjad. Huruf hijaiyah dimulai dari alif dan berakhir pada huruf ya’ secara terpisah-pisah. Sedang terminologi abjad urutannya disusun dalam bentuk kalimat

(أبجد هوز حطى كلمن سعفص قرشت)

di samping itu terminologi abjad lebih bersifat terbatas pada bahasa samiyah yang lokal (lughah samiyah al-umm).[4]

Huruf hijaiyah berjumlah 28 huruf tunggal atau 30 jika memasukkan huruf rangkap lam-alif (لا)dan hamzah(ء) sebagai huruf yang berdiri sendiri. Orang yang pertama kali menyusun huruf hijaiyah secara berurutan mulai dari alif sampai ya’ adalah Nashr Bin ‘Ashim Al-Laitsi(ناصر بن عاصم الليثي) .[5]

Cara menulis huruf Arab berbeda dengan huruf Latin. Kalau huruf Latin dari kiri ke kanan maka huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri.[6]

D. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HURUF HIJAIYAH

Semua huruf atau tulisan di dunia ini pada mulanya merupakan tanda-tanda yang sangat sederhana yang telah ditemukan, disepakati dan dipergunakan oleh generasi paling tua dalam bentuk gambar atau lambang yang dapat dilihat oleh mata. Kemudia generasi selanjutnya melakukan proses pengurangan, penambahan dan penyempurnaan –sesuai kebutuhan- sehingga terwujud bentuk huruf seperti sekarang ini. Demikian pula dengan huruf atau tulisan Arab.

Menurut penelitian para sejarawan, tulisan Arab yang digunakan seperti sekarang ini berasal dari tulisan mesir kuno: Hieroglyph. Dibuktikan dengan temuan arkeologis :

–prasasti pada batu, pilar- di Mesir Selain itu sisa-sisa paleografis

–tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit- tertentu membuktikan bahwa orang Mesir pada masa itu mempunyai pengetahuan tentang tulis-menulis dan seni tulis. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: Tulisan Mesir kuno terdiri dari gambar-gambar sehingga disebut pictograph (tulisan gambar). Karena cara menulis dengan gambar itu tidak ada batasnya maka kemudian diringkas dengan mengambil dan mempergunakan beberapa huruf hieroglyph. Seperti (:) lambang untuk bunyi ra atau r, ( ) berbunyi p, ( ) berbunyi ta atau t, dan sebagainya.[7]

Tulisan Mesir kuno tetap digunakan dalam bentuk gambar dan beberapa diantaranya berupa huruf hingga abad 5 M, dan tidak mengalami banyak perubahan sampai generasi-generasi mesir selanjutnya berakulturasi (proses bercampurnya dua atau lebih kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi) dengan suku-suku di daerah lain, seperti dengan Suku Lihyani di Arabia Selatan dan sebagai wujud akulturasinya melahirkan jenis tulisan lihyani, atau dengan Suku Himyar di Yaman Siria dan melahirkan tulisan himyari.[8]

Ciri tulisan pada waktu itu adalah huruf ditulis dengan bentuk lambang yang terpisah-pisah seperti huruf cetak Latin, hanya huruf konsonan (selain wawu, alif dan ya’) yang di tulis, tidak memakai titik-titik, dan terkadang satu huruf dipakai untuk beberapa huruf yang mempunyai kesamaan bentuk tanpa diberi tanda pembeda seperti lazimnya huruf pada masa sekarang.

Dalam perkembangan selanjutnya, Tulisan Arab mengalami proses penyempurnaan bentuk meskipun belum dibedakan. Hal ini terjadi setelah adanya penetrasi budaya dan peradaban oleh Suku Anbar dan Hirah (yang mendiami sepanjang sungai Eufrat) terhadap masyarakat Mesir pada waktu itu. Ciri huruf atau tulisan pada fase ini adalah huruf-huruf sudah ditulis secara bersambung, dan juga adanya penambahan beberapa huruf yang sebelumnya tidak ada. Seperti tsa’, dzal, dhad, dla’, dan ghin. Huruf mati –alif, wawu, dan ya’- juga telah dipergunakan sampai abad ke-6 M.

Diperkirakan seabad sebelum kedatangan Islam, orang-orang Hijaz telah belajar baca-tulis di Siria (pada suku Himyar) dan Irak (pada Suku Hirah dan Anbar).[9]

Hal ini dikarenakan hubungan dagang yang terjalin diantara mereka. Sehingga melahirkan tokoh-tokoh yang dikenal mempunyai keahlian baca-tulis Arab, seperti Bisyir Bin Abdul Malik Al-Kindi yang bersahabat dengan Harb Bin Umayyah yang mempunyai keahlian sama, yang kemudian menikah dengan keturunan Umayyah dan mulai mengajarkan baca tulis kepada pemuda-pemuda Quraisy.


Pada akhir abad ke-6 M memasuki awal abad ke-7 M, mulai banyak orang Islam yang pandai baca-tulis, khususnya di kalangan pemudanya. Karena adanya program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan oleh Nabi Muhammad SAW. yakni tawanan-tawanan non Muslim yang tidak membahayakan Islam jika dibebaskan dan mereka mempunyai kemampuan baca-tulis yang cukup, maka tiap satu orang tawanan diharuskan mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh anak orang Islam sampai mahir.[10]

Diantara sahabat-sahabat Nabi yang pandai baca-tulis adalah Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Mu’awiyah Bin Abi Sufyan, Yazid Bin Abi Sufyan dan masih banyak lagi. Meskipun sebagai sahabat dan keluarganya dapat membaca dan menulis, namun Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mempelajari kepandaian ini. Wahyu yang turun kepad Nabi Muhammad oleh sebagian sahabat yang dapat menulis, dituliskan di atas pelepah kurma, kayu, tulang, lempung, batu, dan material lain yang dapat digunakan.[11]

Beberapa bagian al-Qur’an disimpan di masjid Nabi, di rumah Nabi Muhammad dan sebagian di rumah para sahabat nabi. Dengan wafatnya nabi Muhammad pada tahun 623 M, dan gugurnya banyak pengikut Nabi Muhammad yang hafal seluruh al-Qur’an dalam perang, seperti perang yamamah,[12]

maka umat merasakan kebutuhan mendesak untuk mencatat wahyu dalam bentuk lebih permanen. Atas desakan Umar Bin Khattab, Abu Bakar memerintahkan Zaid Bin Tsabit –sekretaris Nabi- untuk menghimpun dan menulis semua ayat dalam susunan seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: Nantinya ketika agama Islam tersebar ke berbagai belahan dunia, berkembang kekhawatiran bahwa wahyu Allah akan hilang atau menyimpang jika tidak ada teks standar pada masing-masing pusat politik religious Negara Islam. Karena pesan al-qur’an harus difahami muallaf[13]

maka penting sekali ada satu edisi yang dapat digunakan untuk mengajar dan berdakwah.
Proses pelestarian dan tujuan berdakwah melahirkan kebutuhan baru untuk menyempurnakan tulisan. Berangsur-angsur aturan ditetapkan untuk menyambungkan banyak huruf Arab.

Titik ditambahkan untuk membedakan huruf-huruf yang disampaikan dalam satu bentuk (shad, dhad, tha’, dla’, da, dza, ba, ta, tsa dan lainnya). Tanda vokal pendek di atas dan di bawah huruf (fathah untuk “a” pendek, dhammah untuk “u” pendek, dan kasrah untuk “I” pendek) dikembangkan untuk melengkapi vokal dan konsonan panjang. Metode tepat untuk menunjukkan maddah (pemanjangan vokal), syiddah (konsonan ganda), dan sukun (konsonan tak bervokal) kemudian ditambahkan sebagai penyempurna.[14]

Model tulisan yang dipakai para sahabat Nabi dan orang Arab pada masa itu adalah tulisan hijazi, yaitu bentuk tulisan yang merupakan penyempurnaan dari rentetan pertumbuhan dan perkembangan tulisan Arab dalam proses mencari bentuk kesempurnaan huruf yang memenuhi kebutuhan bahasa.[15]

E.FASE PENYEMPURNAAN TULISAN ARAB

Pada masa ini, meskipun secara harfiah tulisan hijazi sudah lengkap, namun masih belum sempurna, tanpa tanda baca titik dan harakat. Huruf-huruf yang sama bentuknya, tetapi berlainan ejaannya belum dibedakan dengan titik. Misalnya: ba’, ta’, tsa’, jim, ha’, kha’, dal, dzal, ra, za dan lainnya.

Penyempurnaan ini dibutuhkan karena munculnya kasus kesalahan baca ayat al-Qur’an dikalangan muslimin. Kesalahan membaca ayat al-Qur’an adalah fatal sebab dapat merubah makna ayat tersebut. Dengan makin meluasnya agama Islam ke berbagai suku dan bangsa-bangsa bukan arab yang tidak mengenal bahasa arab, kekhawatiran terjadinya kesalahan yang sama semakin kuat. Karena bahasa dan tulisan Arab merupakan bahasa dan tulisan resmi al-Qur’an. Sedang bahasa dan tata bahasa Arab waktu itu belum dibakukan.

Penyempurnaan tulisan Arab selanjutnya adalah dengan :

A. MENCIPTAKAN SYAKAL

Pada awal abad ke-7 M, awal daulah Umawiyah, Ziyad Bin Abi Sufyan meminta kepada seorang ahli Bahasa Arab, Abu Aswad Al-Duali (w. 69 H) untuk menciptakan syakal (tanda baca/harakat) untuk mempermudah membaca al-Qur’an dan meminimalisir kesalahan baca. Tanda baca yang diciptakan berupa titik-titik.

- Titik satu disebelah kiri huruf berarti dhammah (u), seperti tulisan(ط) maka dibaca thu.

- Titik satu tepat di atas huruf berarti fathah (a).

- Titik satu tepat di bawah huruf seperti kasrah (i).

- Bila titik didobelkan (dua titik) maka fungsinya menjadi tanwin (un, an, in).

Titik-titik yang menjadi tanda baca tulis dengan tinta merah untuk membedakan dengan huruf yang ditulis dengan tinta hitam. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa semua huruf yang ada dalam al-Qur’an diberi tanda baca. Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa yang diberi tanda hanyalah huruf akhir kata atau huruf-huruf yang dapat menimbulkan salah baca bila tidak diberi tanda.

B.MEMBEDAKAN HURUF YANG SAMA BENTUK DENGAN GARIS

Tanda baca yang berupa titik-titik ciptaan Duali sangat membantu mempermudah membaca al-Qur’an. Tetapi huruf-huruf yang bentuknya sama dan ejaannya berbeda seringkali masih membingungkan. Ini karena huruf-huruf hijaiyah banyak yang mempunyai kesamaan bentuk baik ketika berdiri sendiri atau ketika disambung dengan huruf lain kecuali enam huruf: alif, kaf, lam, wawu, ha’, dan mim.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik Bin Marwan (685-705 M) seorang gubernur bernama Al-Hajjaj Bin Yusuf Al-Tsaqafi meminta Nasr Bin ‘Ashim dan Yahya Bin Ya’mar untuk memberi tanda pada huruf-huruf yang sama bentuknya tapi berbeda ejaan. Nasr dan Yahya selanjutnya menciptakan tanda berupa garis-pendek yang diletakkan di atas atau di bawah huruf. Garis pendek itu bisa satu, dua atau tiga. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: Misalnya : ba’, diberi satu garis pendek di atas huruf, tsa’, diberi tiga garis pendek di atas huruf, dan seterusnya. Bila garis-pendek berjumlah tiga maka yang satu diletakkan di atas dua garis pendek yang berjajar. Garis-pendek yang berfungsi untuk membedakan huruf ini justru dibuat dengan tinta yang sama dengan tinta untuk menulis huruf, hitam. Tanda titik dan garis-pendek tetap dipakai selama pemerintahan Bani Umayyah sampai awal pemerintahan Abbasiyah ±685-750 M.

C.MEMBALIK TANDA-TANDA

Setelah beberapa waktu, system penandaan titik dan garis pendek mengalami perubahan. Munculnya keluhan dari para pembaca al-Qur’an mengenai banyaknya tanda yang harus disandang huruf-huruf dalam ayat al-Qur’an yang dianggap menyulitkan, selain itu model penandaan titik dan garis-pendek dengan menggunakan tinta (waktu itu mesin cetak belum dikenal) memunculkan problem lain. Tinta yang tidak bersifat permanen, artinya dalam beberapa waktu sering kali menjadi kabur dan bahkan hilang, bisa terkena air atau karena faktor lain menyebabkan garis-garis pendek menjadi seperti titik-titik atau sebaliknya, titik-titik menjadi seperti garis (jawa: jumbuh). Sementara itu tinta merah yang digunakan untuk menulis tanda titik karena terlalu lama menjadi kehitam-hitaman menyerupai huruf atau garis pendek yang memang ditulis dengan tinta hitam. Sebuah fakta yang memunculkan kesulitan baru karena orang menjadi bingung mana syakal (titik-titik) mana huruf tertentu (garis pendek).

Kesulitan ini menggerakkan seorang ahli tata Bahasa Arab (nahwu/sintaksis), Al-Khalil Bin Ahmad (w. 170 H) mengadakan perubahan. Al-khalil membalik fungsi tanda-baca tanda-baca yang diciptakan Abu Aswad dan Nasr-Yahya. Titik-titik yang awalnya merupakan harakat sekarang dijadikan tanda untuk membedakan huruf yang berbentuk sama namun berbeda ejaan. Dan untuk tanda baca (syakal/harakat) al-Khalil mengambil dari huruf-huruf yang menjadi sumber bunyi (huruf vokal). Alif sebagai sumber bunyi ‘a’. Ya’ sebagai sumber bunyi ‘I’. Wawu sebagai sumber bunyi ‘u’. Kepala kha’ sebagai tanda mati (sukun).
Tanda untuk membedakan huruf yang bentuknya sama bisa berupa tanda titik atau tanda menyerupai angka.

1.TANDA TITIK

Untuk huruf-huruf yang tidak mempunyai kesamaan bentuk dengan huruf lainnya, tidak diberi tanda titik. Misalnya alif, lam, mim, dan ha’.

Untuk huruf-huruf yang berbentuk sama diberi tanda titik. Misalnya ba’, ta’ tsa’, jim, ha’ dan kha’. Dal dengan dzal. Ra’ dengan za’. Sin dengan syin, shad dengan dhad. Tha’ dengan dla’, dan lainnya.
Ba’ dengan satu titik di bawah. Ta’ dengan dua titik di atas. Tsa’ dengan tiga titik di atas. Jim dengan satu titik di bawah. Kha’ dengan satu titik di atas. Dzal dengan satru titik di atas. Syin dengan tiga titik di atas. Dhad dengan satu titik di atas.

Semua ditulis dengan tanda demikian baik ketika dipisah maupun di sambung. Tetapi ada beberapa huruf yang berbeda penandaannya ketika ditulis terpisah dan bersambung.

Fa’ dengan satu titik di atas ketika ditulis bersambung dengan huruf lain. Dan tanpa titik ketika ditulis terpisah.

Qaf dengan satu titik di bawah, ada pula yang menandainya dengan dua titik di atas ketika ditulis bersambung. Dan tanpa titik ketika ditulis terpisah. Meskipun qaf nampak serupa dengan fa’, namun ulamak terdahulu tidak menganggapnya serupa. Sebab bentuk fa’ lebih terbuka sedangkan qaf lebih tertutup. Mereka justru menyamakan bentuk qaf dengan wawu. Hanya saja dalam penulisan terpisah untuk membedakan qaf dengan wawu, qaf ditulis dalam bentuk lebih besar daripada wawu.
Pada masa-masa awal munculnya bentuk huruf hijaiyah, kaf mempunyai kesamaan bentuk dengan dal dan dzal. Hanya saja bentuk kaf ditulis lebih besar daripada keduanya. Karena perbedaan ukuran ini, kaf tidak diberi tanda titik untuk membedakannya dengan dal dan dzal. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: Seperti halnya kaf, pada masa awal penandaan huruf-huruf hijaiyah, nun diserupakan bentuknya dengan ra’ dan za’ ketika ditulis terpisah dan tanpa tanda titik. Hanya saja nun ditulis dalam bentuk lebih besar dan ekor lebih tertutup. tetapi ketika disambung, nun diberi tanda satu titik di atas sebab menyerupai bentuk ba’ dan saudaranya.

Huruf ya’ ketika disambung diberi tanda dua titik di bawah karena menyerupai nun, ba’ dan saudaranya. Tetapi ketika ditulis terpisah atau sendirian tidak diberi tanda apapun karena tidak dikhawatirkan serupa dengan huruf lain.

Riwayat ini menunjukkan bahwa bentuk tulisan dan penandaan yang demikian adalah jenis tulisan kufi[16]

pada abad-abad permulaan dan belum mengalami penyempurnaan.[17]

2.TANDA ANGKA

Untuk membedakan huruf-huruf yang serupa bentuknya, ada ulama yang menggunakan angka atau tanda selain titik. Misalnya, di atas huruf ra’ dan sin ditulis tanda menyerupai angka ‘7’. Tanda ini ditulis di salah satu huruf yang serupa bentuknya saja. Jadi, jika ada huruf menyerupai sin tetapi diatasnya tidak ada tanda seperti angka -7- berarti itu huruf syin. Atau bila ada huruf seperti ra’ dan diatasnya tidak ada tanda demikian berarti huruf za’.

Ada pula yang ditandai dengan huruf. Misalnya, di atas huruf cha’ dan ‘ain diberi tanda seperti huruf ‘د’. di bawah huruf shad diberi tanda lingkaran kecil. Sedangkan, bila ada huruf yang bentuknya seperti huruf shad tetapi tidak ada tanda lingkaran kecil dibawahnya, berarti adalah huruf dhad. Namun, penggunaan tanda-tanda ini untuk membedakan huruf jarang dipakai sebab dianggap terlalu rumit dan sulit mengingatnya karena tanda yang dipakai berbeda-beda. [18]

F.TANDA KHUSUS PADA SAAT HURUF DIUCAPKAN

Tanda ini hampir menyerupai harakat dalam hal fungsi dan posisinya. Kalau harakat menjadi vocal atau menunjukkan bunyi huruf yang menerimanya, maka tanda ini lebih mengarah pada bentuk huruf pada saat ditulis dan baru tampak fungsinya ketika huruf yang menerima tanda ini diucapkan.
Tanda khusus itu adalah:

1.Tanda pengganti hamzah
Pada masa permulaan Islam, masyarakat Islam pada masa itu hanya mengenal alif sebagai bentuk hamzah. Bahkan Mushaf Usmani juga melambangkan hamzah dengan alif. Penduduk Hijaz hanya mengenal hamzah jika berada di awal kalimat. Namun ketika hamzah itu berada di tengah atau di akhir, mereka mengganti hamzah tersebut dengan huruf yang sesuai dengan harakat yang paling kuat. Secara berurutan dari sisi kekuatan harakat adalah kasrah, dhammah, fathah. Untuk yang paling lemah adalah sukun, kasrah dengan ya’, dhammah dengan wawu, dan fathah dengan alif. Huruf-huruf inilah yang selanjutnya yang menggantikan posisi hamzah jika berada di tengah dan di akhir. Dalam perkembangan kaidah kebahasaan berikutnya, hal ini dikenal dengan istilah ta’shil, yaitu meringankan bacaan hamzah dan menggantinya dengan huruf yang sesuai dengan harakatnya.

Mushaf Usmani juga menampakkan hamzah bila hamzah berada di awal kalimat saja dan hanya dilambangkan dengan alif. Mushaf Usmani tidak mengenal hamzah di tengah dan di akhir kalimat. Sebab hamzah di dua tempat tersebut dalam Mushaf Usmani semuanya diganti dengan huruf mad (alif, wawu, ya’). Selanjutnya diciptakan tanda baru untuk menunjukkan adanya hamzah di tengah atau di akhir kalimat. Sebab tanda titik yang diciptakan oleh Abu Aswad Al-Duali[19]nsebagai harakat tidak menunjukkan keberadaan hamzah.

Tanda baru tersebut ada yang berupa titik yang dibuat dengan tinta warna kuning atau merah. Ada pula yang cukup menulis huruf pengganti hamzah dengan tinta kuning atau merah. Artinya, bila di tengah atau di akhir kalimat ada tanda titik atau huruf yang ditulis dengan warna kuning atau merah, berarti tanda atau huruf itu adalah hamzah. Dalam perkembangan huruf pada masa berikutnya hamzah tidak ditandai dengan tanda berbeda, tetapi sudah diberi bentuk, seperti tanda ra’sul ain (kepala ain). > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: 2.TANDA SUKUN

Sukun bukanlah harakat. Sebaliknya, sukun menunjukkan tidak adanya harakat. Karena itu ketika suatu huruf menerima sukun, ia menjadi ringan bacaannya. Ada banyak pendapat mengenai tanda sukun. Penduduk Andalusia menggunakan tanda jurrah atau jarrah (tanda yang di ambil dari huruf kha’)[20] yang diletakkan di atas huruf untuk menunjukkan sukun. Penduduk Madinah menggunakan tanda bulatan kecil (diambil dari kepala mim setelah tangkai atau badannya di buang)[21] yang diletakkan di atas huruf.[22]

3.TANDA TASYDID

Tulisan-tulisan Arab pada mulanya tidak menggunakan tanda khusus untuk huruf yang di tasydid atau bersuara ganda dan ditulis hanya dengan satu huruf seperti huruf-huruf lain yang tidak bersuara ganda. Sehingga muncul persangkaan bahwa huruf yang bersuara ganda memang cuma satu huruf.

Karena itu, akhirnya disepakati untuk membuat tanda khusus bagi huruf yang bersuara ganda. Ada dua tanda khusus yang digunakan, yaitu syin ( ش), diambil dari kata (شديد) tanda ini dibuat oleh Khalil Bin Ahmad. Tanda kepala syin ini diletakkan di atas huruf yang bersuara ganda baik huruf itu bersuara ‘a’,’i’, atau ‘u’.

Sedangkan tanda satunya adalah huruf dal yang ditulis dalam bentuk lebih kecil. Tanda ini di ambil dari huruf dal yang ada di akhir kata (شديد)tanda dal diletakkan di atas huruf bila bersuara ‘a’, di bawah huruf jika berharakat kasrah, dan diletakkan di depan huruf yang bersuara ganda jika bersuara ‘u’. Tanda tasydid yang demikian banyak dipakai oleh penduduk Madinah.

4.TANDA TANWIN

Tanwin adalah suara nun mati yang berada di akhir isim yang menerima tanwin (munsharif), isim yang tidak dimasuki alif-lam (al), dan isim yang tidak dimudhafkan.

Para penulis Mushaf tidak melambangkan tanwin dengan nun, mereka juga tidak meletakkan tanda apapun untuk menunjukkan adanya tanwin baik ketika rafa’ atau jar. Hanya ketika nashab saja para penulis Mushaf menambahkan alif di akhir kalimat.

Abu Aswad Al-Duali (ketika menciptakan tanda titik untuk menunjukkan harakat, satu titik yang diletakkan di atas huruf untuk harakat fatha, satu titik di depan huruf untuk harakat dhammah, dan satu titik di bawah huruf untuk kasrah) hanya memberi tanda dua titik, satu titik untuk menunjukkan harakat dan satu titik untuk menunjukkan adanya tanwin. Sehingga untuk huruf yang menerima tanwin fathah/nashab, Abu Aswad meletakkan tanda dua titik di atas huruf, untuk tanwin dhammah/rafa’ ditulis dengan dua titik di depan huruf, dan untuk tanwin kasrah/jar, Abu Aswad memberi tanda dua titik di bawah huruf. Semua tanda titik ini, baik titik harakat atau titik tanwin ditulis dengan tinta warna merah.

Kemudian Al-Khalil menyempurnakan tanda titik yang dibuat oleh Abu Aswad untuk menandai tanwin dengan tanda garis. Satu titik satu garis, dan dua titik dua garis. Sedangkan tanda titik sendiri oleh Al-Khalil digunakan untuk membedakan huruf-huruf yang berbentuk sama tetapi berbeda ejaan. Setelah tanda tanwin yang diciptakan Al-Khalil, tanda tanwin tidak serta merta berubah seperti sekarang. Ada beberapa perubahan dan perbedaan pendapat mengenai perubahan lanjutan tanda tanwin.

Menurut Al-Qalqasyandi, ulama mutaakhirin menggunakan huruf wawu dan garis yang ditulis dalam bentuk kecil dan diletakkan di atas huruf yang menyandang tanwin dhammah atau dhmmatain. Huruf wawu menunjukkan dhammah dan tanda garis menunjukkan tanwin. Adapula yang menggunakan huruf wawu ganda yang ditulis dengan berhadapan, satu wawu menghadap ke depan dan satu wawu menghadap ke belakang dalam posisi terbalik (‘’).[23]

Tanda-tanda ciptaan Al-Khalil[24] banyak yang menjadi dasar untuk tanda-tanda dalam tulisan Arab sampai sekarang. Proses penyempurnaan huruf-huruf hijaiyah ini terjadi sampai abad ke-8 M. tulisan atau huruf Arab yang sudah mengalami proses perubahan dan penyempurnaan itulah yang sekarang dipakai sebagi huruf Arab resmi internasional. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: G.PENUTUP

Sebagai penutup dalam tulisan ini, bahwa sejarah perkembangan tulisan Arab (hijaiyah) memang dipengaruhi oleh kebutuhan manusia Arab yang semakin hari semakin kompleks, sehingga tulisan ini mengalami kemajuan yang pesat dengan dijadikannya sebagai sebuah cabang ilmu tersendiri. Selain itu, pembakuan tulisan Arab tidak terlepas dari pengaruh Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam yang menjadi agama utama Bangsa Arab pada masa berikutnya, sehingga dalam tahap kemajuannya maka disusunlah Ilmu Nahwu untuk menjaga kemapanan (kemurnian) bahasa Arab sebagai bahasa standar dunia Arab.

Wallahu a’lam

🪧NOKTAH

[1] Jurja Zaidan, Al-Falsafah Al-Lughawiyah Wa Al-Fadh Al-Arabiyah (Kairo: Dar Al-Hilal: tt.), 162.

[2] Jamaluddin Muhammad Bin Mukrom Ibn Mandur Al-Afriki, Lisan Al-Arab (Beirut Libanon: Dar Al-Kutub, 1990), juz 10:371.

[3] Abd. Karim Husain, Seni Kaligrafi Khat Naskhi,Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab Dengan Metode Komparatif (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988), 5.

[4] Ahmad Husnain Thohir, Abdul Aziz Nabawi, Al-Asas Fi Al-Lughah Al-Arabiyah (Kairo: Al-Shadru Li Khidmati Al-Thiba’ah,1987), 25. Lihat juga Anis Farikha, Nadhariyat Al-Lughah (Bairut; Dar Al-Kuttab Al-Libnani, 1973), 90.

[5] Dalam tulisan Zam Zam Afandi dikatakan ‘Ashim Al-Laitsi adalah salah satu orang yang diperdebatkan sebagai salah satu orang yang pertama kali menyusun ilmu nahwu selain Abu Aswad, Ali Bin Abi Tholib, Umar Bin Khattab dan Abdul Rahman Bin Hurmuz dalam Adabiyyat, vol 1 Maret 2003.

[6] Philip K. Hitti, History Of The Arab, (Jakarta: Serambi, 2005), 64.

[7] Abd. Karim Husain, Op.Cit., 6 teori tentang asal mula tulisan Arab sangat banyak. Pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama kali menulis dengan menggunakan huruf Arab adalah Nabi Ismail. Namun saat itu semua huruf-hurufnya bersambung, meskipun wawu atau ra’. Kemudian dua anaknya, Qaidar dan Hamaisa’ melakukan pemisahan pada huruf-huruf yang bersambung tersebut. Selengkapnya lihat Nasr Al-Huwairini, Qawaid Al-Imla’ (Lebanon: Muassasah Al-Risalah, Beirut, 2001), 18. Lihat pula Jurja Zaidan, 161-162.

[8] Pendapat lain menyebutnya tulisan al-masnad. Tulisan al-masnad itu tiap hurufnya berdiri sendiri, tidak bersambung, tidak seperti tulisan Arab yang ada sekarang. Lihat C. Israr, Sejarah Kesenian Islam 2, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), 9.

[9] Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa suku Anbar mewarisi kepandaian menulis Arab dari generasi sekretaris Nabi Hud, lihat Nasr Al-Huwairini, Qawaid Al-Imla’..........hal 18.

[10] Muh. Al-Khudhari Bek, Fi Sirati Sayyidi Al-Mursalin, alih bahasa Bahrun Abu Bakar (Bandung: Sinar Baru, 1989), 155.

[11] Mereka tidak menuliskannya diatas kertas karena pada masa itu kertas belum dikenal dikalangan orang arab, lihat Al-Shabuni, Al-Tibyan Fi Ulum Al-Qur’an (Beirut: Alam Al-Kutub, 1995), 53.

[12] Perang pada masa khalifah Abu Bakar dengan tujuan memerangi para pembelot agama, yaitu orang murtad dan orang yang menolak membayar zakat, lihat Umar Abdul Jabbar, Khulashah Nurul-Yaqin 3, (Surabaya: Maktabah Hikmah, tt.), 12.

[13] Orang baru memeluk (masuk) agama Islam.

[14] Ismail Al-Faruqi dan Louis Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya: Menjelajah Hazanah Peradaban Gemilang (Mizan: Bandung, 2003), 392.

[15] Menurut Anis Farikha dalam nadhariyat al-lughah hal 91, bangsa Arab -sebelum Islam datang- mengutip tulisan arami sebagai dasar tulisan Arab sebelum terbakukan seperti sekarang yang sampai kepada kita.

[16] Al-qur’an kuno konon di tulis dengan tulisan kufi, lihat john L. Eposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), jilid 3 hal 77, dalam tema Kaligrafi dan Epigrafi.

[17] Selengkapnya lihat Ghanam Qaduri, Takmil Rasmi Al-Usmani (Iraq: Universitas Bagdad, tt) Bab 5, 89-91.

[18] Ibid, 100-102

[19] Lihat juga Muhammad Al-Tanthawi, Nasyat Al-Nahwi Wa Tarikh Asyhur Al-Nuhat, cet. Ke II tt, 19. > KUMPULAN MATERI KITAB KUNING📚: [20] Huruf kha’ dipakai sebab mengambil dari kata khafif yang artinya ringan. Maksudnya adalah ketika suatu huruf menyandang sukun maka ia menjadi ringan bacaannya sebab tidak menyandang harakat.

[21] Tanda ini diciptakan dari kepala huruf mim sebab mengambil dari kata jazem (جزم) istilah lain dari sukun.

[22] Ibid, 123

[23] Ibid, 130-131

[24] Diantara kontribusi Al-Khalil dalam dunia keilmuan Arab adalah tentang illah, Adabiyyat, vol. 1 Maret 2003.

sumber materi asal :

🌐http://semprulle44.blogspot.com/2012/05/sekilassejarah-tulisan-bahasa-arab.html?m=1

repost by pangeranjati @ unissula

Senin, 05 Desember 2022

MAKNA SHALAT

 Shalat adalah salah satu wujud pengabdian muslim kepada sang Kholiq, Namun Shalat juga lambang dari kesatuan Ummah. Terlepas aliran apakah anda. Selama anda masih melaksanakan Shalat sesuai tuntunan Al Qur’an dan Al Hadits, dimanapun anda berada, dibelahan dan dibagian bumi manapun anda melakukan nya, dilaut, didarat, diudara bahkan diluar angkasa sekalipun. Maka anda adalah bagian dari Muslim.


SHALAT DAN CAHAYA HATI

صلاة الرجل نور في قلبه فمن شاء منكم فلينور قلبه
Rasulullah saw bersabda:

“Shalat seseorang adalah cahaya di hatinya dan barangsiapa di antara kalian yang berkeinginan maka hendaknya ia menyinari hatinya dengan cahaya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18973]

URGENSITAS SHALAT

أول ما افترض الله على أمتي الصلوات الخمس وأول ما يرفع من أعمالهم الصلوات الخمس وأول ما يسألون عنه الصلوات الخمس

Rasulullah saw bersabda:

“Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah swt atas umatku adalah shalat lima waktu, hal pertama yang diangkat dari amalan-amalan mereka adalah shalat lima waktu, dan hal pertama yang dipertanyakan kepada mereka adalah shalat lima waktu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18859]


SHALAT PENYEBAB KEBAHAGIAAN

قال رسول الله صلي الله عليه و اله: خمس صلوات من حافظ عليهن كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة
Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu maka ia akan memperoleh cahaya, burhan dan keselamatan pada hari kiamat kelak.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18862]

URGENSITAS SHALAT

أول ما افترض الله على أمتي الصلوات الخمس وأول ما يرفع من أعمالهم الصلوات الخمس وأول ما يسألون عنه الصلوات الخمس

Rasulullah saw bersabda:

“Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah swt atas umatku adalah shalat lima waktu, hal pertama yang diangkat dari amalan-amalan mereka adalah shalat lima waktu, dan hal pertama yang dipertanyakan kepada mereka adalah shalat lima waktu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18859 ]

SHALAT PARAMETER PENERIMAAN AMAL PERBUATAN

قال الصادق (عليه السلام): أوّل ما يحاسب به العبد الصلاة، فإن قبلت قبل سائر علمه، وإذا ردّت ردّ عليه سائر عمله

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) dari seorang hamba adalah shalat, jika shalatnya diterima maka seluruh amalnya akan diterima dan jika shalatnya ditolak maka seluruh amalnya akan ditolak.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 22]

SHALAT DAN RAHMAT ALLAH SWT

قال أمير المؤمنين عليه السلام: إذا قام الرجل إلى الصلاة أقبل إليه إبليس ينظر إليه حسدا لما يرى من رحمة الله التي تغشاه

Imam Ali as berkata:

“Jika seseorang berdiri melaksanakan shalat maka Iblis menghadap kepadanya sambil memandangnya dengan hasud karena melihat rahmat yang menyelimutinya.” [Bihar, jilid 82, hal 207]

SHALAT DAN MENGINGAT ALLAH SWT

“روي عن الباقر عليه السلام أنه قال: ذكر الله لاهل الصلاة أكبر من ذكرهم إياه، ألا ترى أنه يقول: “اذكروني أذكركم

Dari Imam Baqir as berkata:

“Ingatan Allah swt untuk orang-orang yang mendirikan shalat lebih besar dari ingatan mereka kepada Allah, apakah engkau tidak melihat bahwa Allah swt berfirman:

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah (2): 152) [Bihar, jilid 82, hal 199]


SHALAT DAN IKATAN JANJI DENGAN ALLAH SWT

روي عن النبي صلى الله عليه واله قال: قال الله تعالى: افترضت على أمتك خمس صلوات وعهدت عندي عهدا أنه من حافظ عليهن لوقتهن أدخلته الجنة ومن لم يحافظ عليهن فلا عهد له عندي
Dari Rasulullah saw:

“Allah swt berfirman: Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu dan Aku ikatkan sebuah perjanjian di sisiKu bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktu-waktunya maka Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka tidak ada ikatan perjanjian untuknya di sisiKu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18872]


KEDUDUKAN SHALAT

قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد

Rasulullah saw bersabda:

“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18972]

HADIS KEENAM BELAS: SHALAT DAN KESUCIAN JIWA 
: قال النبي صلى الله عليه واله: مثل الصلوات الخمس كمثل نهر جار عذب على باب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات فما يبقى ذلك من الدنس
Rasulullah saw bersabda:

“Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar yang mengalir di sisi pintu rumah salah seorang di antara kalian yang setiap harinya ia mandi lima kali, maka tidak tertinggal sedikitpun kotoran (di badannya, artinya barangsiapa yang sehari semalam mendirikan shalat lima waktu juga maka ia akan terbebas dari kotoran-kotoran jiwa dan ruh).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18931]

BERKAH SHALAT

عن علي عليه السلام قال: إن الانسان إذا كان في الصلاة فان جسده وثيابه وكل شئ حوله يسبح
Imam Ali as berkata:

“Sesungguhnya manusia apabila berada dalam kondisi shalat maka tubuh, pakaian dan segala sesuatu di sekitarnya akan bertasbih.” [Bihar, jilid 82, hal 213]


PERUMPAMAAN SHALAT

عن أبي جعفر عليه السلام قال: الصلاة عمود الدين، مثلها كمثل عمود الفسطاط إذا ثبت العمود ثبتت الاوتاد والاطناب، وإذا مال العمود وانكسر لم يثبت وتد ولا طنب

Dari Abi Ja’far as berkata:

“Shalat adalah tiang agama, perumpamaannya seperti tiang kemah, bila tiangnya kokoh maka paku dan talinya akan kokoh, dan bila tiangnya miring dan patah maka paku dan talinya pun tidak akan tegak.” [Bihar, jilid 82, hal 218]



SHALAT BENDERA ISLAM

قال النبي صلى الله عليه واله: علم الإسلام الصلاة فمن فرغ لها قلبه وحافظ عليها بحدها ووقتها وسننها فهو مؤمن

“Bendera Islam adalah shalat, maka barangsiapa memberikan hatinya untuknya dan menjaganya dengan batasan dan waktunya serta sunah-sunnahnya maka ia adalah seorang mukmin (hakiki).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18870]

Sumber materi asal :

https://cahyaimancahayakebenaranislam.wordpress.com/2011/02/28/shalat-lambang-kesatuan-persaudaraan-muslim/

repost by pangeranjati, pengabdi UNISSULA


KISAH PEPERANGAN DI 'AQROBA

Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahihnya (1/15) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah ibnul Mubarok, sebuah perkataan ...