Minggu, 15 Januari 2023

KISAH PEPERANGAN DI 'AQROBA

Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahihnya (1/15) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah ibnul Mubarok, sebuah perkataan yang layak ditulis dengan tinta emas, yaitu beliau berkata :

 

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

 

Sanad adalah termasuk agama, kalau tidak ada sanad, maka setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya.

 

Terkait dengan sejarah Islam, kita tidak akan peduli apa yang dikatakan oleh ahli sejarah, sekalipun mereka bersepakat untuk menyebutkan sebuah cerita, jika tidak ada sanad yang shahih yang menunjukkan kebenaran cerita tersebut, maka itu layak dilemparkan ke tembok. Kebanyakan ahli sejarah hanya mengumpulkan cerita, dan jarang diantara mereka yang meneliti kebenaran akan ceritanya, mungkin dengan cukup menyebutkan sanadnya, mereka sudah merasa bahwa pembacanya akan menyeleksi kebenaran cerita tersebut, namun sayangnya banyak pembaca yang tidak melakukan hal tersebut, sehingga mereka pun turut dalam menyebarkannya, tanpa menyebutkan benar tidaknya cerita tersebut.

 

Musailimah Al-Kadzdzaab ini dahulu pernah datang kepada Nabi SAW bersama rombongan kaum Bani Hanifah, yang menyatakan masuk Islam. Tetapi Musailimah minta supaya ditetapkan sebagai Nabi, menjadi Nabi bersama Nabi SAW, maka permintaan tersebut ditolak oleh Rasulullah SAW.

 

Setelah mereka kembali ke Yamamah (negeri mereka), Musailimah murtad dari keislamannya, dan dia mengaku menjadi Nabi disamping Nabi Muhammad SAW, dan dia mulai membuat propaganda palsu kepada kaumnya.

 

Musailimah berkata, “Sesungguhnya aku bersekutu dalam soal kenabian ini dengan Muhammad”.

 

Dan dia juga pernah berkirim surat kepada Nabi SAW, surat itu berbunyi sebagai berikut :

 

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُوْلِ اللهِ اِلىَ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ. اَمَّا بَعْدُ: فَاِنّى قَدْ اَشْرَكْتُ فِى اْلاَمْرِ مَعَكَ. وَ اِنَّ لَنَا نِصْفَ اْلاَمْرِ. وَ لَيْسَ قُرَيْشٌ قَوْمًا يَعْدِلُوْنَ. الحلبية 3: 315

 

Dari Musailimah utusan Allah, kepada Muhammad utusan Allah.

 

Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku telah bersekutu dalam urusan (kenabian) denganmu. Dan bahwasanya bagi kami separuh urusan, akan tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang tidak adil. [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 315

 

 

Setelah surat itu diterima oleh Nabi SAW, maka beliau memberi balasan pada waktu itu juga dengan surat sebagai berikut :

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلىَ مُسَيْلِمَةَ اْلكَذَّابِ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى، اَمَّا بَعْدُ: فَاِنَّ اْلاَرْضَ ِللهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَ اْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ. الحلبية 3: 315

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailimah Pendusta. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Dan akibat (kesudahan yang baik) itu bagi orang-orang yang bertaqwa. [Sirah Al-Halabiyah juz 3, hal. 315]

 

Di dalam tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan sebagai berikut :

 

لَمَّا رَضِيَ الصّدّيْقُ عَنْ خَالِدِ بْنِ اْلوَلِيْدِ وَ عَذَرَهُ بِمَا اعْتَذَرَ بِهِ، بَعَثَهُ اِلىَ قِتَالِ بَنِي حَنِيْفَةَ بِالْيَمَامَةِ، وَ اَوْعَبَ مَعَهُ الْمُسْلِمُوْنَ، وَ عَلَى اْلاَنْصَارِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، فَسَارَ لاَ يَمُرُّ بِاَحَدٍ مِنَ الْمُرْتَدّيْنَ اِلاَّ نَكَّلَ بِهِمْ، وَ قَدْ  اِجْتَازَ بِخُيُوْلٍ لاَصْحَابِ سَجَاحَ فَشَرَّدَهُمْ وَ اَمَرَ بِاِخْرَاجِهِمْ مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ.

 

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memaafkan Khalid bin Walid dan menerima alasannya (berkenaan dengan terbunuhnya Malik bin Nuwairah), kemudian beliau mengutus Khalid bin Walid untuk memerangi Bani Hanifah di Yamamah, dengan mengerahkan pasukan kaum muslimin. Pimpinan kaum Anshar ketika itu adalah Tsabit bin Qais bin Syammas.

Khalid mulai berjalan menuju Bani Hanifah, tidaklah ia melewati kaum yang murtad melainkan pasti membuatnya jera. Ketika melewati pasukan berkuda Sajaah, Khalid menyerbu mereka hingga mereka lari kocar-kacir dan akhirnya Khalid berhasil mengusir mereka dari Jazirah ‘Arab.

 

وَ اَرْدَفَ الصّدّيْقُ خَالِدًا بِسَرِيَّةٍ لِتَكُنْ رِدَءًا لَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَ قَدْ كَانَ بَعَثَ قَبْلَهُ اِلىَ مُسَيْلِمَةَ عِكْرِمَةَ بْنَ اَبِي جَهْلٍ، وَ شُرَحْبِيْلَ بْنَ حَسَنَةَ، فَلَمْ يُقَاوِمَا بَنِي حَنِيْفَةَ، لاَنَّهُمْ فِي نَحْوِ اَرْبَعِيْنَ اَلْفًا مِنَ الْمُقَاتِلَةِ، فَعَجَّلَ عِكْرِمَةُ قَبْلَ مَجِئِ صَاحِبِهِ شُرَحْبِيْلَ، فَنَاجَزَهُمْ فَنُكِبَ، فَانْتَظَرَ خَالِدًا

 

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menyertakan bala bantuan di belakang Khalid untuk menjaganya dari belakang.

 

Sebelumnya, Abu Bakar telah mengutus ‘Ikrimah bin Abu Jahl dan Syurahbil bin Hasanah menuju Musailimah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani Hanifah disebabkan jumlah personil musuh  sangat banyak, yakni sekitar 40.000 personil. Kemudian ‘Ikrimah telah mendahului sebelum Syurahbil datang. Kemudian Syurahbil memerangi mereka, namun juga merasa tidak mampu mengalahkannya, lalu menunggu pasukan Khalid bin Walid.

 

فَلَمَّا سَمِعَ مُسَيْلِمَةُ بِقُدُوْمِ خَالِدٍ عَسْكَرَ بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ عَقْرَبَا فِي طَرَفِ الْيَمَامَةِ وَالرّيْفُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ، و نَدَبَ النَّاسَ وَحَثَّهُمْ، فَحَشَدَ لَهُ اَهْلُ الْيَمَامَةِ، وَجَعَلَ عَلَى مُجَنّبَتَيْ جَيْشِهِ الْمُحَكَّمَ بْنَ الطُّفَيْلِ، وَالرَّجَّالَ بْنَ عُنْفُوَةَ بْنِ نَهْشَلٍ، وَكَانَ الرَّجَّالُ هذَا صَدِيْقَهُ الَّذِيْ شَهِدَ لَهُ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ اَنَّهُ قَدْ اُشْرِكَ مَعَهُ مُسَيْلِمَةُ بْنُ حَبِيْبٍ فِي اْلاَمْرِ، وَ كَانَ هذَا الْمَلْعُوْنُ مِنْ اَكْبَرِ مَا اَضَلَّ اَهْلَ الْيَمَامَةِ، حَتَّى اَتْبَعُوْا مُسَيْلِمَةَ، لَعَنَهُمَا اللهُ، وَقَدْ كَانَ الرَّجَّالُ هذَا قَدْ وَفَدَ اِلىَ النَّبِيّ ص وَ قَرَأَ الْبَقَرَةَ، وَجَاءَ زَمَنُ الرّدَّةِ اِلىَ اَبِي بَكْرٍ فَبَعَثَهُ اِلىَ اَهْلِ الْيَمَامَةِ يَدْعُوْهُمْ اِلىَ اللهِ وَ يُثَبّتُهُمْ عَلَى اْلاِسْلاَمِ، فَارْتَدَّ مَعَ مُسَيْلِمَةَ وَ شَهِدَ لَهُ بِالنُّبُوَّةِ.

 

Setelah Musailimah mendengar kedatangan Khalid dan telah menempatkan pasukannya di suatu tempat yang bernama ‘Aqraba di ujung bumi Yamamah, sedangkan perkampungan tepat di arah punggung mereka, Musailimah lalu membangkitkan semangat fanatisme kesukuan pasukannya, sehingga bangkitlah fanatisme penduduk Yamamah memenuhi ajakannya.

 

Musailimah menempatkan pada kedua sayap pasukannya masing-masing Al-Muhakkam bin Thufail dan Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah bin Nahsyal. Sebelumnya Ar-Rajjal adalah shahabat Musailimah yang pernah bersaksi bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW menyatakan bahwa Musailimah bin Habib telah mendapatkan wahyu seperti Nabi. Akibat kesaksian palsunya itu orang terla’nat ini memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah, sehingga penduduk Yamamah mengikuti Musailimah, semoga Allah mela’nat keduanya. Bahkan Ar-Rajjal pernah datang menghadap Rasulullah SAW dan sempat membaca surat Al-Baqarah.

 

Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu Bakar mengutusnya kepada penduduk Yamamah untuk berda’wah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia pada Islam, namun akhirnya Rajjal ikut murtad bersama Musailimah dan bersaksi bahwa Musailimah adalah Nabi.

 

وَ قَرُبَ خَالِدٌ وَ قَدْ جَعَلَ عَلَى الْمُقَدّمَةِ شُرَحْبِيْلَ بْنَ حَسَنَةَ، وَ عَلَى الْمُجَنّبَتَيْنِ زَيْدًا وَ اَبَا حُذَيْفَةَ، وَ قَدْ مَرَّتِ الْمُقَدّمَةُ فِي اللَّيْلِ بِنَحْوٍ مِنْ اَرْبَعِيْنَ، وَ قِيْلَ سِتّيْنَ فَارِسًا، عَلَيْهِمْ مَجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ، وَكَانَ قَدْ ذَهَبَ لاَخْذِ ثَأْرٍ لَهُ فِي بَنِي تَمِيْمٍ وَ بَنِي عَامِرٍ وَ هُوَ رَاجِعٌ اِلىَ قَوْمِهِ فَاَخَذُوْهُمْ. فَلَمَّا جِيْءَ بِهِمْ اِلىَ خَالِدٍ عَنْ آخِرِهِمْ فَاعْتَذَرُوْا اِلَيْهِ فَلَمْ يُصَدّقْهُمْ، وَ اَمَرَ بِضَرْبِ اَعْنَاقِهِمْ كُلّهِمْ، سِوَى مَجَّاعَةَ فَاِنَّهُ اسْتَبْقَاهُ مُقَيّدًا عِنْدَهُ (لِعِلْمِهِ بِالْحَرْبِ وَ الْمَكِيْدَةِ) وَ كَانَ سَيّدًا فِي بَنِي حَنِيْفَةَ شَرِيْفًا مُطَاعًا

Pasukan Khalid telah dekat, formasi pasukannya, di depan dipimpin Syurahbil bin Hasanah, sementara di sayap kiri dan sayap kanan adalah Zaid bin Khaththab dan Abu Hudzaifah. Dan pasukan Islam yang terdepan telah mendahului bertemu musuh yang berjumlah sebanyak 40 orang penunggang kuda (ada yang mengatakan 60 orang) di malam hari di bawah pimpinan Majja’ah bin Murarah. Waktu itu ia berangkat untuk membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani ‘Amir, kemudian ketika kembali kepada kaumnya, ia dan teman-temannya ditangkap oleh pasukan kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Mereka seluruhnya minta pengampunan kepada Khalid, namun Khalid tidak percaya, bahkan memerintahkan agar seluruhnya dibunuh kecuali Majja’ah, ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di dekat Khalid, karena keahliannya dalam siasat perang, dan ia merupakan pemimpin yang dimuliakan dan dipatuhi oleh kaumnya Bani Hanifah.

 

وَ يُقَالُ: اِنَّ خَالِدًا لَمَّا عُرِضُوْا عَلَيْهِ قَالَ لَهُمْ: مَاذَا تَقُوْلُوْنَ يَا بَنِي حَنِيْفَةَ ؟ قَالُوْا: نَقُوْلُ مِنَّا نَبِيٌّ وَ مِنْكُمْ نَبِيٌّ، فَقَتَلَهُمْ اِلاَّ وَاحِدًا اِسْمُهُ سَارِيَةُ، فَقَالَ لَهُ: اَيُّهَا الرَّجُلُ اِنْ كُنْتَ تُرِيْدُ عَدًا بِعُدُوْلِ هذَا خَيْرًا اَوْ شَرًّا فَاسْتَبْقِ هذَا الرَّجَلَ (يَعْنِي مَجَّاعَةَ بْنَ مُرَارَةَ) فاسْتَبْقَاهُ خَالِدٌ مُقَيّدًا، وَ جَعَلَهُ فِي الْخَيْمَةِ مَعَ امْرَأَتِهِ، وَ قَالَ: اِسْتَوْصِيْ بِهِ خَيْرًا

 

Ada yang mengatakan bahwa ketika mereka dihadapkan kepada Khalid, Khalid bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian wahai Bani Hanifah ?”. Mereka serentak menjawab, “Dari kami seorang Nabi dan dari kalian seorang Nabi pula”.

 

Khalid lalu membunuh mereka semuanya kecuali seorang yang bernama Sariyah. Sariyah lalu berkata kepada Khalid, “Wahai orang laki-laki, jika anda ingin berperang, bagaimanapun kondisi yang anda temui besok, baik ataupun buruk, namun biarkanlah satu orang ini hidup”. (Yaitu Majja’ah bin Murarah). Oleh karena itulah Khalid membiarkannya hidup dalam keadaan terikat. Khalid menempatkannya di dalam tenda dengan istrinya Khalid. Dan Khalid berpesan kepada istrinya, “Berbuat baiklah kepadanya”.

 

فَلَمَّا تَوَاجَهَ الْجَيْشَانِ قَالَ مُسَيْلِمَةُ لِقَوْمِهِ: اَلْيَوْمَ يَوْمُ الْغَيْرَةِ، اَلْيَوْمَ اِنْ هُزِمْتُمْ تُسْتَنْكَحُ النّسَاءُ سَبَيَاتٍ، وَ يُنْكَحْنَ غَيْرَ حَظَيَاتٍ، فَقَاتِلُوْا عَلَى اَحْسَابِكُمْ وَ امْنَعُوْا نِسَاءَكُمْ،

 

Ketika kedua pasukan bertemu, Musailimah berseru kepada kaumnya, Hari ini adalah hari semangat kecemburuan dan penentuan. Hari ini jika kalian kalah, maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian”.

 

وَ تَقَدَّمَ الْمُسْلِمُوْنَ حَتَّى نَزَلَ بِهِمْ خَالِدٌ عَلَى كَثِيْبٍ يُشْرِفُ عَلَى الْيَمَامَةِ، فَضَرَبَ بِهِ عَسْكَرَهُ، وَ رَايَةُ الْمُهَاجِرِيْنَ مَعَ سَالِمٍ مَوْلىَ اَبِي حُذَيْفَةَ، وَ رَايَةُ اْلاَنْصَارِ مَعَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ، وَ الْعَرَبُ عَلَى رَايَاتِهَا، وَ مَجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ مُقَيّدٌ فِي الْخَيْمَةِ مَعَ اُمّ تَمِيْمٍ اِمْرَأَةِ خَالِدٍ،

 

Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan Khalid bersama pasukannya membuat pertahanan di tempat yang tinggi di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abu Hudzaifah dan panji Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Orang-orang ‘Arab yang lain juga membawa panji mereka masing-masing, sementara Majja’ah terikat di dalam tenda, di dalam tenda ia bersama Ummu Tamim (istri Khalid).

 

فَاصْطَدَمَ الْمُسْلِمُوْنَ وَ الْكُفَّارُ فَكَانَتْ جَوْلَةٌ وَ انْهَزَمَتِ اْلاَعْرَابُ حَتَّى دَخَلَتْ بَنُوْ حَنِيْفَةَ خَيْمَةَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيْدِ وَ هَمُّوْا بِقَتْلِ اُمّ تَمِيْمٍ، حَتَّى اَجَارَهَا مَجَّاعَةُ وَ قَالَ: نِعْمَتِ الْحُرَّةُ هذِهِ، وَ قَدْ قُتِلَ الرَّجَّالُ بْنُ عُنْفُوَةَ لَعَنَهُ اللهُ فِي هذِهِ الْجَوْلَةِ، قَتَلَهُ زَيْدُ بْنُ الْخَطَّابِ

Pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, serangan silih berganti, namun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailimah. Kaum muslimin mulai terdesak, hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin Walid dan hampir membunuh Ummu Tamim, seandainya tidak dilindungi oleh Majja’ah dengan mengatakan, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat baik dan mulia”.

 

Pada waktu terjadi serangan balik inilah Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah tewas terbunuh, semoga Allah mela’natnya, ia dibunuh oleh Zaid bin  Khaththab.

 

 📖Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 716

 

WALLOHUL WALIYYUT TAUFIQ ILA SABILUL HUDA

Sumber materi asal :

http://wiyonggoputih.blogspot.com/2017/04/kisah-peperangan-di-aqroba.html?m=1

 repost by pangeranjati@unissula

Biografi Syekh Muhammad Al-Jazuli

 Syekh Muhammad Al-Jazuli memperbaharui Thoriqot di Maghribi setelah pengaruh-pengaruh dari pengajarannya. Syekh Muhammad Al-Jazuli benar-benar seorang yang mencurahkan waktunya untuk menolong dan memberikan manfa’at kepada ummat Beliau juga mengutus para sahabatnya keberbagai negeri untuk menda’wahkan hukum Allah dan mendorong mereka ke jalan Allah.

Banyak sekali orang mengikuti dan mengamalkan Thoriqotnya. Mereka juga banyak yang datang langsung kepada Syekh Muhammad A1-Jazuli untuk bertaqurrub dan mencari ridho Allah. Pengikutnya itu mencapai 12665 orang dimana kesemuanya itu bisa mendapatkan fadhilah menurut kadar martabat dan kedekatan mereka dengan Syekh Muhammad Al-Jazuli.

Adapun murid-murid beliau banyak sekali, diantaranya adalah  Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli dimana beliau adalah yang tertua dan sahabatnya yang lain, yang menemaninya dalam meriwayatkan Dalail. Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari kemudian Syekh Abdul ‘Aziz Ab-Tiba’ dan beliaulah Sayid dan Gum Sanadku (Mu’aUif dintana Guru saya Sayid Ahmad Musa Al-Samlali berguru kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Abbas A1-Shom’i berguru kepadanya dan kemudian Sayid Mufri Abdul Qodir Al-Fasi belajar kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Al-Haj belajar kepadanya kemudian Sayid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Al-Matsani belajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad bin Abmad Al-Mudghiri belajar kepadanya dan kemudian Sayid All bin Yusuf Al-Hariri Al-Madanibelajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad Amin Al-Madani belajar kepadanya dan kemudian Al-Quthbu Al-Rais Sayid Muhammad Idris belajar kepadanya dan kemudian Al Quthbu Al-Rasyid Sayid Abdul Mu’id radliyallahu ‘anhurn dan santrinya yang dijuluki dengan Muhammad Ma’ruf yang belajar kepadanya.

 

3.1. MURID SYEKH MUHAMMAD AL JAZULI

Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli,

Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari,

Syekh Abdul ‘Aziz Ab-Tiba’.

 

4.KAROMAH SYEKH MUHAMMAD AL JAZULI

Sebagian dan keramatnya adalah setelah 77 tahun dari wafat beliau, makam beliau dipindahkan Maralisy, dan ternyata ketika jenazah beliau dikeluarkan dari kubur, keadaan jenazah itu masih utuh seperti ketika beliau dimakamkan. Rambut dan jenggot beliau masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari beliau dimakamkan. Makam beliau di Markasy sering diziarahi oleh banyak orang.

Sebagian besar dan peziarah itu membaca Dalil al Khairat disana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak di bacakan sholawat salam kepada Nabi Muhamad SAW, para sahabat dan keluarga beliau. kisah wangi semerbak itu adalah sebagian dari sejarah yang lain tentang beliau bahwa para orang sholeh dari berbagai penjuru dari masa ke masa senantiasa membaca dan mengamalkan kitab beliau yaitu dalail al khoirot.

Akhirnya beliau mendapat perdikat sebagai seutama-utamanya orang yang bersama Rasul SAW kelak karena banyaknya pengikut beliau untuk membaca Sholawat, sebagai mana Rasulullah SAW bersabda, “Seutama utama manusia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca Sholawat untukku”

 

5.UNTAIAN KATA ULAMA KEPADA BELIAU

Syekh al-Khafidh Abu Na’im berkata, “ Sejarah besar tentang Syeh Muhamad Al-Jazuli ini benar-benar sesuai dengan hadis dan fatwa para sahabat tentang membaca sholawat kepada Nabi saya telah menuqilnya meskipun banyak para ulama’ yang mengetahuinya secara pasti, sebagai mana disabdakan Nabi, “Sedekat-dekatnya orang yang lebih berhak mendapat syafa’atku pada hari kiamat besok adalah orang yang paling banyak membaca sholawat pada waktu ia masih di dunia”

 

6.SEJARAH MENJELANG MENGARANG KITAB DALAILUL KHOIROT

Adapun sebab musabah beliau mengarang kitab Dalailul Khoirot adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur, tetapi beliau tidak menjumpai seorangpun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudhu.

Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur itu dalam keadaan bingung karena tidak ada alat untuk menimba air. Tetapi kemudian beliau dilihat oleh seorang anak perempuan kecil yang berusiya sekitar tujuh tahun. Anak itu bertanya kepada Sayid Muhammad al-Jazuli,

“Ya Syekh, mengapa anda nampak bingung berputar-putar disekitar sumur Syekh menjawab,”Saya Muhammad bin sulaiman”.

Anak itu bertanya lagi, “Apa yang hendak tuan kebijakan ?“.

Syekh menjawab, “Waktu shalat dhuhurku sudah sempit, tetapi saya belum mendapatkan air untuk berwudhu”.

Anak kecil itu bertanya, apakah dengan namamu yang sudah terkenal ia tidak bisa (hanya sekedar) mendapatkan air wudhu dari dalam sumur? Tunggulah sebentar!“

Kemudian anak kecil itu mendekat ke bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancarkan di sekitan sumur seperti sungai besar.

Kemudian anak kecil itu pulang kerumahnya, dan Syekh Muhammad Al-Jazuli pun segera berwudhu dan melaksanakan sholat dhuhur.

Setelah Al -Jazuli selesai melaksanakan shalatnya Syekh Muhammad bergegas mendatangi anak perempuan kecil itu, sesampainya di sana beliau mengetuk pintu. Anak kecil itu berkata, “Siapa itu ?“, maka syekh menjawab, “Wahai anak perempuanku, saya bertanya kepadamu, demi Allah dan kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu dan menunjuikan kepadamu terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulmu yang diharap-harapkan syafaatnya, saya harap engkau mau menemuiku, saya hendak menanyakan tentang satu hal”.

Ketika anak itu menemui beliau, Syekh Muhammad Al-Jazuli bersumpah, “Aku bersumpah kepadamu demi kemahaagungan Allah, demi kemahakuasaan-Nya, demi kemahamemberi-Nya, demi kemahasempurnaan-Nya dan demi Nabi Muhammad yang sholawat salam atas beliau, para shahabat, isteri dan putra-putra beliau, demi risalah beliau dan demi syafaat beliau, aku mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapatkan martabat yang tinggi sehingga dapat mengeluarkan air dan sumur tanpa menimba?“.

 Anak perempuan kecil itu menjawab, : “Kalaulah tidak karena sumpahmu itu wahai Syekh, tentulah aku tidak mau menceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW” Setelah peristiwa itu kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli radliallahu anhu mengarang kitab “Dalail al Khairat” di kota Fas. Dan sebelum beliau mensosialisasikan kitab itu ia mendapat ilham untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dari Fas kedesa beliau ditepi daerah Jazulah. Kemudian beliau dengan kesendiriannya itu bertemu Syekh Abu Abdilah Muhammad bin Abdullah Al-Shaghir seorang penduduk dipinggiran desa dan beliau berguru Dalail kepadanya.

Kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli melaksanakan kholwat untuk beribadah selama 14 tahun dan kemudian keluar dan kholwatnya untuk mengabdikan diri dan menyempurnakan pentashihan (pembetulan) kitab “Dalait al Khoirot” pada hari jum’at, 6 Rabi’ul Awwal 82 H. delapan tahun sebelum hari wafatnya.

 

7.KARYA BELIAU

Adapun karya beliau Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli yang paling terkenal adalah Dalailul Khoirot.

 

8.REFERENSI

📖Kitab Mathali’ al-Masarrat bi Jilai Dalail al-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Hadi bin Ahmad bin ‘Ali bin Yusuf Al-Fasi dan dari berbagai sumber yang mendukung.

Sumber materi asal :

https://www.laduni.id/post/read/74979/biografi-syekh-muhammad-bin-sulaiman-al-jazuli

 repost by pangeranjati@UNISSULA

TOKOH IMAM BUSHIRI, PENYAIR ULUNG QASIDAH BURDAH

Imam Bushiri dikenal sebagai imam para penyair, ahli di berbagai bidang ilmu, kharismatik, dengan ketakwaan yang sempurna dan  keluhuran budi pekerti, selalu menghargai dan membalas kebaikan orang lain. Keistimewaan beliau dalam sifat terpuji telah melambung tinggi. Nama asli beliau adalah Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shonhaj bin Hilal as-Shonhaji al-Bushiri.

Imam Bushiri dilahirkan pada hari Selasa 1 Syawal 608 H di Dallaz, salah satu desa di dataran tinggi Mesir yang ditempati keluarga Bani Suwaif. Julukan “Bushiri" dinisbatkan kepada salah satu orang tuanya yang berasal dari daerah Bushir Mesir. Sedangkan kata “Shonhaji” ialah nama kabilah suku barbar yang bertempat tinggal di gurun pasir sebelah barat Maghrib Aqha (sekarang Maroko).

Imam Bushiri berpindah dari desa kelahirannya bersama keluarga menuju Kairo guna melazimi halaqoh-halaqoh keilmuan para ulama termashyur. Beliau sangat tekun dalam belajar hingga dapat menguasai berbagai macam ilmu dalam waktu yang sangat singkat. Ilmu yang menjadi kegemarannya adalah sastra Arab. Selain itu, beliau juga mampu menghafal seluruh isi Al-Quran serta memahami isi kandungannya.

Setelah menjadi ulama ternama, beliau mencetak banyak ulama tersohor. Di antara muridnya yang menjadi unggulan adalah Abu Hayyan Asiruddin Muhammad bin Yusuf al-Gharnathi al-Andalusi, Fathuddin Abu al-Fath Muhammad bin Muhammad al-Amri al-Andalusi al-Isybili al-Mishri yang kerap dikenal dengan gelar "Ibnu Sayyid an-Nas" (Putra dari Penghulu manusia). Masih banyak lagi ulama yang terlahir dari didikan beliau.

Semasa muda, Imam Bushiri sering kali mengarang nadhom dan syair-syair berbahasa Arab. Hal itu dilandasi atas rasa cintanya pada bahasa Arab yang tinggi, hingga akhirnya beliau tuangkan bukti kecintaannya dalam sebuah karya tulis.

Ciri khas syair yang terlahir dari pena beliau dan menjadi pembeda syair selainnya, ialah kandungan makna di dalamnya. Terdapat pesan dan hikmah yang begitu mendalam hingga mampu membuat si pembaca seolah-olah tenggelam dalam samudera kearifan.

Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyah pernah menuturkan kisah hidup Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri adalah penyair ulung yang dekat dengan para pengusa di zamannya. Memberikan pujian terhadap mereka adalah kepiawaiannya. Beliau mendapatkan tempat adiluhung di mata para penguasa.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah disingkapkannya keburukan nafsu orang-orang di sekitarnya, Imam Bushiri tersadar dan mulai menjauh dari mereka. Penyesalan Imam Bushiri menjadi-jadi ketika Allah membuka hatinya. Dirinya terlalu dilenakan oleh keindahan dunia yang fana.

Semenjak itu, beliau mengubah rutinitasnya dengan mulai mendekatkan diri kepada Allah swt. melalui tulisan syair-syair yang berisikan tentang pujian kepada kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad saw.

Tidak ada syair yang mampu membandingi syair yang ditulisnya. Keikhlasan serta kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. mengantarkan dirinya kepada tingkat kemuliaan dan mashyur di kalangan para wali Allah di bumi serta malaikat di langit.

Guru Spritual yang berperan penting bagi Imam Bushiri semasa hidupnya ialah Wali Quthub Sayyidi Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Sanad keilmuannya bersambung hingga Sayyidi Abu al-Hasan asy-Syadzili. Dari beliau Imam Bushiri mendapatkan ilmu dzahir dan batin.

 

ADIKARYA WARISAN IMAM BUSHIRI

 

Imam Bushiri mewariskan segudang karya qasidah yang tak bisa diserupai orang lain. Terutama Burdah, sebuah qasidah yang berceritakan pujian kepada Nabi Muhammad saw. Qasidah ini tersebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan telah dijadikan adat mingguan yang dilakukan oleh para keluarga Bani Alawi di Hadramaut.

Qasidah Burdah mashyur di kalangan umat muslim. Para ulama meyakini adanya keberkahan yang terkandung dalamnya. Hal itu disebabkan dari kisah yang dialami sendiri oleh Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri tertimpa penyakit kronis yang melumpuhkan fungsi sebagian organ tubuhnya. Kala itu, para dokter memvonis penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Gundah melihat kondisi yang dialaminya, beliau bertekad untuk menuliskan sebuah qasidah berisikan pujian kepada Nabi, berharap agar Allah swt menyembuhkan dirinya berkat shalawat kepada sang kekasih.

Imam Bushiri mulai menulis dan mengarang qasidah Burdah, sembari membayangkan bahwa Rasulullah saw. berada di dekatnya dan mengawasi apa yang ia tulis.

Setelah sampai pada bait terakhir, beliau tertidur. Dalam mimpinya, dia bertemu dengan Rasulullah saw.

Beliau melihat Rasulullah saw. mengusapkan tangannya yang mulia ke tubuh Imam Bushiri serta memakaikan burdah kepadanya. Tak lama kemudian, Imam Bushiri kembali tersadar dan mendapati dirinya telah sehat dan pulih kembali sedia kala.

Penamaan Burdah dinisbatkan kepada kisah seorang sahabat yang bernama Ka'ab bin Zuhair, salah seorang penyair Rasulullah saw.

Rasulullah saw. pernah memasangkan burdah (selimut berbulu hitam) mulia kepada Ka'ab. Hal itu tidak beliau lakukan melainkan sebagai tanda dan bentuk rasa cinta beliau kepadanya. Oleh karenanya, nama burdah lalu dipakai untuk para penyair Rasulullah dari generasi ke generasi.

 

PERAN IMAM BUSHIRI DALAM DUNIA SYAIR

Sebelum berpulang ke rahmat Allah, Imam Bushiri sempat meninggalkan banyak karya yang bertuliskan syair serta qasidah-qasidah pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Karyanya terhimpun dalam sebuah diwan syair yang dicetak di negeri Mesir pada tahun 1373 H. Di antara qasidah yang termashyur adalah Qasidah Burdah yang berjudul Al-Kawakib Ad-Durriyyah fi Madhi Khoiril Bariyyah, kemudian qasidah Al-Mudhiriyyah fi fi Madhi Khoiril Bariyyah,qasidah Al-Khumriyyah, qasidah Dzuhrul Mu'ad dan lain-lain.

Keajaiban dari qasidah Imam Bushiri adalah tidak ada satupun qasidah yang mencapai tingkat kesempurnaan dalam dari segi tatanan bahasa dan makna kecuali qasidah Burdah.

Kelebihan itu tidak akan terjadi kecuali setelah datangnya pertolongan dan keridhaan dari Nabi Muhammad saw. atas niatnya yang tulus, aqidahnya yang bersih, serta keimanannya yang kuat. Bahkan Imam Bushiri layaknya sahabat Hasan bin Tsabit penyair Rasulullah saw. di masa hidupnya. Syair yang dilantukan oleh Hasan bin Tsabit adalah syair yang ditujukan untuk membela Rasulullah Saw beserta para sahabatnya ketika melawan kaum musyrikin.

Imam Bushiri wafat 695 H dalam usia 86 tahun. Beliau disemayamkan dekat dengan makam gurunya, Syeikh Abu al-Abbas al-Mursi di kota Iskandariyyah, Mesir. Wallahu a'lam bis hawab.

 

📚Referensi:

📖Al-Wafi bi al-Alwafiyat, karya Sholahuddin Kholil bin Abdillah As-Shofdi.

📖Fawatul Wafayat, karya Muhammad bin Syakir Al-Katbi.

📖Husnul Muhadhoroh fi Akhbar Misrha wal Qohirah, karya Imam Suyuthi.

📖Mausuatul Mafahim al-Islamiyyah, karya Ali bin Nayyif As-Syahud.

📖Syadzarat at-Dzahab fii Akhbari man Dzahab, karya Ibnu Imad Al-Hanbali.

📖Syarah Qasidah Burdah, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.

 

 

Sumber materi asal :

https://sanadmedia.com/post/imam-bushiri-penyair-qasidah-burdah

 

repost by pangeranjati@UNISSULA

Kamis, 12 Januari 2023

Kata-kata Bijak Gus Baha yang Menyejukkan Hati

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, lebih dikenal sebagai Gus Baha, lahir 29 September 1970 merupakan ulama yang berasal dari Rembang. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair.


Gus Baha' kecil dididik belajar dan menghafalkan al-Qur'an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan oleh guru ayahnya, yaitu KH. Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha’ di usianya yang masih muda, mampu menghafalkan Al-Qur'an 30 Juz beserta Qira'ahnya.


Teladan yang bisa ditiru dari Gus Baha' adalah tentang kesederhanaanya. Kesederhanaan yang dipraktikan Gus Baha’ bukan berarti keluarga Gus Baha’ adalah keluarga yang miskin, karena kalau dilihat dari silsilah lingkungan keluarganya, tiada satupun keluarganya yang miskin. Bahkan kakek Gus Baha’ dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya.

Berikut ini adalah kata kata bijak Gus Baha yang menyejukkan hati :


1. Jangan membenci orang yang sedang kafir saat ini, bisa saja suatu saat orang tersebutlah yang mensyafaati kamu. Tirulah Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk Sayyidina Umar Bin Khatab yang saat itu sedang kafir.


2. Jika dalam menghadapi hidup ada moment yang sangat berat, sehingga tak kuasa membendung tangis, maka istirahatlah sebentar. Kadang, beban itu perlu dilepaskan sebentar, tidak harus dipikul terus.


3. Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril.


4. Orang yang tidak mampu melihat kekurangannya sendiri, sulit bisa melihat kelebihan orang lain.


5. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil, padahal dari sanalah sesuatu yang besar lahir dan tumbuh.


6. Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta hamba pada Tuhannya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu terasa aneh di mata kita.


7. Kalau malaikat datang dan memberitahu saya bahwa kelak saya akan masuk neraka selamanya, apakah saya akan berhenti menyembah Tuhan? Tidak. Saya akan terus menyembah Tuhan.


8. Harapan dan keinginan ini seharusnya sejalan. Ya sejalan dengan betapa besar usaha yang kamu lakukan dalam mewujudkannya.


9. Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya, seolah-olah apa yang ada dipikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.


10. Hidup tidak usah dibuat sulit, tidak usah ruwet. Asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup


11. Kalau niat sholat jangan hanya karena diterima sholatnya saja, itu nafsu. Niatlah sholat karena kamu merasa diciptakan dan ditakdirkan untuk sujud, karena faktanya Gusti Allah memang pantasnya disujudi.


12. Cinta mungkin terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadanya, karena cinta darinya bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.


13. Jangan pernah putus asa saat merasa dalam kesulitan, sebab Allah menyertakan kemudahan setelah kesulitan.


14. Allah tidak pernah ingkar pada hamba-Nya, meski sekecil biji Zarrah pun janji Allah selalu ditepati.


15. Sabarmu akan terbayar, lelahmu akan hilang, sakitmu akan sembuh, kamu harus ingat, Allah tidak buta.


16. Kita ini mudah mencintai orang yang berjasa dalam hidup kita, tapi kenapa tidak mudah mencintai Allah yang jasa-jasanya sangat besar dalam hidup kita.



🌏 Semoga bermanfaat....

repost by pangeranjati@UNISSULA

KISAH PEPERANGAN DI 'AQROBA

Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahihnya (1/15) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah ibnul Mubarok, sebuah perkataan ...